Liputan6.com, Jakarta - Piramida Projects adalah komunitas urban farming yang mengusung sistem pertanian terintegrasi (integrated farming) untuk ketahanan pangan skala rumahan. Berlokasi di tengah perumahan di Sleman, DI Yogyakarta, mereka membuktikan bahwa berkebun organik bukan hanya tentang menghasilkan sayur dan buah dalam jumlah banyak, tetapi juga tentang kualitas nutrisi dan kelezatan dari hasil panen.
Filosofi Piramida Projects menekankan keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem. Mereka percaya bahwa tanaman yang dipupuk dengan benar dan dirawat tanpa bahan kimia akan menghasilkan panen yang tidak hanya melimpah, tetapi juga memiliki rasa yang jauh lebih enak dibandingkan produk konvensional. Pendekatan holistik ini telah terbukti menekan pengeluaran keluarga hingga 70% untuk kebutuhan pangan.
Dalam artikel ini, kami akan membagikan 7 trik pemupukan rahasia dari Piramida Projects yang telah terbukti meningkatkan hasil panen dan kualitas rasa. Trik-trik ini berbasis pengalaman nyata mereka dalam mengelola kebun rumahan selama 3 bulan terakhir dengan hasil yang luar biasa. Jadi simak trik selengkapnya berikut ini.
1. Pilih Pupuk Organik, Tinggalkan Kimia
Trik pertama dan paling fundamental dari Piramida Projects adalah beralih sepenuhnya ke pupuk organik. Menurut pengalaman mereka, pemupukan kimia memang memberikan hasil yang cepat, namun berdampak buruk pada kualitas tanah dan rasa hasil panen dalam jangka panjang.
"Dulu kami pernah pakai kimia-kimia kayak misalnya pupuk kimia dan lain-lain. Ternyata pas kita aplikasikan pupuk itu rasanya berubah. Beda," ungkap CEO Piramida Project Taufik Azhari kepada reporter Liputan6.com pada Selasa, 13 Januari 2026. Pengalaman ini mendorong mereka kembali ke pupuk organik sepenuhnya.
Pupuk kimia memiliki basis "panas" yang dapat merusak struktur tanah. Dalam 3-4 siklus panen, tanah yang dipupuk kimia akan menjadi keras, bahkan bisa retak-retak. Kualitas media tanam yang menurun ini akan mempengaruhi penyerapan nutrisi tanaman, yang pada akhirnya berdampak pada rasa hasil panen. Sebaliknya, pupuk organik menjaga tanah tetap gembur, subur, dan dapat digunakan terus-menerus tanpa degradasi kualitas.
Karena itu, Taufik menyarankan agar beralih ke pupuk organik buatan sendiri atau produk organik terpercaya. Piramida Projects kini menggunakan formulasi pupuk organik sendiri yang dikembangkan bersama pengelola mikroba di Yogyakarta. Untuk pemula, Anda bisa mulai dengan pupuk kompos atau pupuk organik cair (POC) yang tersedia di toko pertanian. Investasi jangka panjang pada kesehatan tanah akan terbayar dengan rasa hasil panen yang jauh lebih enak dan tanaman yang lebih produktif.
2. Bedakan Nutrisi untuk Fase Vegetatif dan Generatif
Sama seperti manusia yang membutuhkan nutrisi berbeda di setiap tahap kehidupan, tanaman juga memiliki kebutuhan spesifik berdasarkan fase pertumbuhannya. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk mengoptimalkan hasil panen dan kualitas rasa.
Fase vegetatif adalah masa pertumbuhan daun, batang, dan akar. Pada fase ini, tanaman membutuhkan nitrogen tinggi untuk mendukung fotosintesis dan pertumbuhan jaringan hijau. Fase generatif dimulai saat tanaman berbunga dan berbuah, membutuhkan fosfor dan kalium lebih tinggi untuk mendukung pembentukan bunga, buah, dan biji.
"Kalau di tomat ini kan ini dia masih masa pertumbuhan daun. Jadi kita memberikan pupuknya yang daun supaya daunnya cepat besar, pertumbuhannya cepat. Ketika dia sudah mulai untuk berbunga, itu kita mulai menggunakan pupuk yang buah," jelas Taufik saat menunjukkan kebunnya.
3. Manfaatkan Air Kolam Lele sebagai Pupuk Cair Alami
Inilah keajaiban sistem integrated farming yang diterapkan Piramida Projects. Apa yang dianggap limbah dalam satu sistem, justru menjadi sumber nutrisi berharga untuk sistem lainnya. Air kolam ikan, khususnya lele, adalah contoh sempurna dari prinsip ini.
"Air lele itu kaya nutrisi karena adanya amonia dari lele yang diolah sendiri oleh mereka secara alami, yang itu bagus untuk tanaman," ungkap Taufik. Amonia dari kotoran ikan dan sisa pakan yang terurai mengandung nitrogen, fosfor, dan berbagai mineral yang dibutuhkan tanaman.
Berbeda dengan pupuk kimia yang nutrisinya tunggal dan "keras", air lele memberikan nutrisi kompleks dalam bentuk yang mudah diserap tanaman. Mikroorganisme dalam air juga membantu menyuburkan tanah dan meningkatkan aktivitas biologis di area perakaran. Metode ini tidak hanya menghemat biaya pupuk, tetapi juga menghasilkan sayuran dan buah dengan rasa yang lebih segar dan natural.
4. Gunakan Pupuk Kompos dari Alas Kandang Ayam
Salah satu inovasi menarik dari Piramida Project adalah sistem cekerator, yakni pemanfaatan ceker ayam untuk mengolah kompos secara alami. Ini adalah contoh sempurna bagaimana alam bekerja untuk kita jika kita memahami prosesnya.
"Kotoran diolah secara alami oleh ayamnya tanpa tangan kita yang kami sebut cekerator," jelas taufik. Metode ini sangat sederhana, yakni hanya cukup taruh alas dari daun kering atau sekam padi di kandang ayam, lalu biarkan ayam melakukan pekerjaannya.
Ayam secara alami akan menggaruk, mengaduk, membolak-balikkan material tersebut bersama kotorannya. Proses pengadukan alami ini menciptakan aerasi yang sempurna untuk dekomposisi. Dalam 3-4 bulan, tanpa campur tangan manusia, material ini berubah menjadi kompos berkualitas tinggi. Satu periode 3 bulan bisa menghasilkan 2 karung kompos yang cukup untuk beberapa bulan ke depan. Metode ini membuat Anda tidak perlu membersihkan kandang setiap hari, dan mendapat pupuk kompos berkualitas gratis.
5. Formulasi Pupuk Organik Cair Sendiri dengan Mikroba Unggul
Setelah bereksperimen dengan berbagai produk komersial, Piramida Projects akhirnya mengembangkan formulasi pupuk organik cair sendiri. Langkah ini memberi mereka kontrol penuh atas kualitas nutrisi yang diberikan ke tanaman.
"Mikroba itu juga banyak jenisnya, Mas. Jadi mikroba yang kami gunakan di produk kami itu memang betul-betul sudah diadu di beberapa jenis mikroba. Dan itulah yang paling bertahan, terkuat itu yang kami ambil setelah uji lab," ungkapnya.
Sebelumnya, mereka menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4), produk komersial yang memerlukan aktivasi dengan molase (gula aren atau sejenisnya). Namun, proses ini dianggap terlalu ribet untuk pemula. Akhirnya, mereka bekerja sama dengan pengelola mikroba di Yogyakarta untuk mengembangkan pengurai yang lebih kuat dengan mikroba yang sudah teruji dan langsung aktif.
6. Frekuensi dan Dosis yang Tepat, Sedikit tapi Sering
Kesalahan umum pemula adalah memberikan pupuk dalam jumlah banyak sekaligus, berharap tanaman akan tumbuh lebih cepat. Faktanya, pendekatan "sedikit tapi sering" jauh lebih efektif dan efisien. Ini karena tanaman menyerap nutrisi secara bertahap sesuai kebutuhannya. Pemberian pupuk berlebihan sekaligus bisa menyebabkan banyak nutrisi terbuang, tanaman "overfed" yang justru stres, serta pemborosan pupuk dan biaya.
"Untuk satu pupuk itu saja itu bisa bertahan 3 bulan, Mas, karena penggunaannya sangat minim. Kayak misalnya seminggu sekali kita menggunakan pupuk itu hanya 5 mili untuk 1 liter air," jelas Taufik saat menjelaskan efisiensi pupuk organik cair mereka.
Untuk kebun rumahan sederhana tanpa sistem terintegrasi bisa diberikan pupuk organik cair 1 kali seminggu sudah cukup. Sedangkan untuk kompos bisa diberikan 1 kali sebulan atau saat awal tanam. Dengan dosis kecil ini, 1 liter pupuk organik cair bisa bertahan 3 bulan untuk kebun berukuran sedang. Jauh lebih hemat dibandingkan pupuk kimia yang harus diaplikasikan dalam jumlah banyak.
7. Prioritaskan Kesehatan & Kebahagiaan 'Ekosistem'
Filosofi paling unik dari Piramida Projects adalah memperlakukan seluruh ekosistem pertanian mereka, baik ayam, ikan, tanaman, sebagai makhluk hidup yang membutuhkan kebahagiaan, bukan hanya nutrisi. Pendekatan holistik ini ternyata berdampak signifikan pada kualitas hasil panen.
"Tanaman yang stres akan menghasilkan buah atau sayur yang rasanya tidak optimal," ungkap Taufik. Sama seperti ayam petelur yang mereka pelihara dengan sistem umbaran (bebas berkeliaran) agar tidak stres dan menghasilkan telur berkualitas tinggi, tanaman juga perlu kondisi yang nyaman.
Faktor-faktor yang bisa menyebabkan stres pada tanaman antara lain adalah sebagai berikut:
- Kekurangan atau kelebihan air
- Serangan hama dan penyakit
- Nutrisi tidak seimbang
- Suhu ekstrem
- Tanah yang terlalu padat atau keras
Tanaman yang stres akan mengalokasikan energinya untuk bertahan hidup, bukan untuk menghasilkan buah atau daun yang berkualitas. Hasilnya anen sedikit, rasa hambar, dan nutrisi rendah.
Cara memastikan tanaman Anda "bahagia":
- Observasi harian: Luangkan 5-10 menit setiap pagi untuk mengamati tanaman. Perhatikan tanda-tanda stres seperti daun menguning, layu, atau pertumbuhan terhambat.
- Penyiraman konsisten: Jangan biarkan tanah kering total atau tergenang. Cek kelembaban tanah dengan jari sebelum menyiram.
- Pengendalian hama organik: Gunakan metode organik seperti semprot larutan bawang putih, cabai, atau daun pepaya untuk mengendalikan hama.
- Jadwal teratur: Konsistensi dalam pemupukan, penyiraman, dan perawatan mencegah tanaman stres karena perubahan mendadak.
Dengan pendekatan yang penuh perhatian ini, tanaman Anda tidak hanya akan tumbuh subur, tetapi juga menghasilkan panen dengan rasa yang jauh lebih enak - karena tanaman yang bahagia menghasilkan buah yang lebih manis dan sayur yang lebih renyah.
FAQ
Q1: Apakah pupuk organik benar-benar membuat rasa sayur dan buah lebih enak?
A: Ya, berdasarkan pengalaman Piramida Projects dan penelitian pertanian organik, rasa sayur dan buah yang dipupuk organik cenderung lebih unggul. Pupuk organik mengandung spektrum nutrisi yang lebih kompleks dan seimbang dibandingkan pupuk kimia yang hanya mengandung NPK murni. Nutrisi kompleks ini diserap tanaman dan ditranslasikan menjadi rasa yang lebih kaya, tekstur yang lebih baik, dan aroma yang lebih harum. Selain itu, tanaman organik tumbuh tanpa "stres kimia" sehingga dapat mengembangkan profil rasa alami yang optimal.
Q2: Sebagai pemula di lahan sempit, trik pemupukan mana yang paling mudah diterapkan?
A: Untuk pemula dengan lahan terbatas, mulailah dengan Trik #1 tentang pupuk organik dan Trik #6 tentang dosis tepat dengan frekuensi sedikit tapi sering. Langkah praktisnya sangat sederhana: beli pupuk kompos atau pupuk organik cair siap pakai di toko pertanian terdekat, lalu aplikasikan dengan dosis kecil sekitar 5-10 ml POC per 1 liter air seminggu sekali. Tambahkan kompos sebagai top dressing sebulan sekali. Jangan terburu-buru karena konsistensi lebih penting daripada kuantitas. Hindari godaan untuk memberi pupuk berlebihan karena lebih baik sedikit tapi teratur daripada banyak sekaligus yang justru bisa merusak tanaman. Setelah nyaman dengan rutinitas dasar ini, Anda bisa mulai bereksperimen dengan trik-trik lanjutan seperti air lele atau kompos cekerator.
Q3: Bagaimana cara mengetahui tanaman sedang dalam fase vegetatif atau generatif?
A: Mengenali fase pertumbuhan tanaman sebenarnya cukup mudah dengan pengamatan visual. Pada fase vegetatif atau pertumbuhan, tanaman fokus menumbuhkan daun, batang, dan cabang baru dengan daun-daun yang terlihat rimbun dan hijau segar. Pertumbuhan tinggi dan lebar tanaman sangat pesat, namun belum muncul tanda-tanda bunga. Contohnya seperti tanaman tomat yang baru ditanam hingga mulai membesar. Sedangkan pada fase generatif atau reproduksi, akan muncul kuncup bunga di ketiak daun atau ujung batang, kemudian bunga mulai mekar dan setelahnya muncul bakal buah. Pada fase ini pertumbuhan daun melambat atau berhenti karena energi tanaman difokuskan untuk pembuahan. Tips praktisnya adalah foto tanaman Anda setiap minggu, lalu bandingkan fotonya. Anda akan mudah melihat perubahan dari fase vegetatif yang ditandai daun tumbuh banyak ke fase generatif yang ditandai bunga muncul. Saat melihat kuncup bunga pertama, itulah saatnya beralih dari pupuk daun ke pupuk buah.
Q4: Di mana bisa mendapatkan mikroba untuk membuat pupuk organik cair sendiri?
A: Ada beberapa sumber untuk mendapatkan aktivator mikroba yang cukup mudah diakses. Untuk produk komersial, EM4 atau Effective Microorganisms tersedia di hampir semua toko pertanian dengan harga sekitar Rp 25.000-40.000 per liter, meski perlu diaktivasi dengan molase sebelum digunakan. Banyak daerah juga memiliki produk mikroba lokal dengan nama berbeda yang bisa ditanyakan di toko pertanian terdekat. Untuk sumber alami, Anda bisa membuat sendiri MOL atau Mikroorganisme Lokal dari rebung bambu, buah-buahan busuk, atau air cucian beras yang difermentasi.
Q5: Apa yang dimaksud dengan "tanaman stres" dan bagaimana cara mencegahnya?
A: Tanaman stres adalah kondisi di mana tanaman mengalami gangguan fisiologis akibat faktor lingkungan atau perawatan yang tidak optimal. Seperti manusia yang stres tidak bisa bekerja maksimal, tanaman stres juga tidak akan tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tanda-tandanya bisa berupa daun menguning tanpa sebab jelas, daun layu meski tanah lembab, pertumbuhan terhambat atau kerdil, daun menggulung atau mengkerut, bunga dan buah gugur sebelum matang, serta mudah terserang hama dan penyakit. Penyebab umumnya adalah kekurangan atau kelebihan air, nutrisi tidak seimbang, serangan hama dan penyakit, cuaca ekstrem, atau kondisi tanah yang buruk.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480264/original/037795400_1769051262-Kombinasikan_dengan_Pakan_Hijauan_Segar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481955/original/097546900_1769152614-desain_teras_rumah_lahan_terbatas__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275552/original/044237000_1751882343-pexels-matthias-oben-2060028-3687927.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481878/original/087568900_1769150171-AA_Budidaya_Ikan_Nila_dengan_Azolla.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481888/original/095671600_1769150212-ikan_gabus__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482156/original/015904800_1769162872-Warna_Lantai_Teras_Rumah_Kecil_yang_Bikin_Area_Depan_Terasa_Lebih_Luas_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481808/original/032997500_1769147564-Gaya_Minimalis_dengan_Sentuhan_Kaca__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481807/original/063984500_1769147414-kandang_long_yam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482095/original/031157300_1769159220-Meja_Bar_Dapur_Minimalis_yang_Bagus_untuk_Rumah_KPR.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481774/original/056532300_1769146481-jualan_mie.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482042/original/091210600_1769156587-ChatGPT_Image_23_Jan_2026__15.22.31.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275549/original/013357600_1751882333-pexels-niranjan-t-g-56677497-7906305.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480538/original/006295400_1769059160-peternakan_bebek_dan_ikan_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481973/original/029331600_1769152964-3edb42d0-792c-4792-ad4c-42d466c2608e.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481719/original/080256900_1769143328-wafer.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3987911/original/095414600_1649311271-jeppe-vadgaard-PnFgNgCkBXY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481906/original/036442800_1769150947-kolong_meja_dapur4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481755/original/093970000_1769145324-asian-young-woman-holding-tube-moisturizer.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481707/original/043440700_1769143020-wajan_anti_lengket.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366414/original/008267000_1759226872-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32__2_.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)