7 Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Ternak Ikan dan Ayam di Sistem Terpadu

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Model ternak ikan dan ayam dalam sistem terpadu semakin diminati karena menawarkan efisiensi lahan dan potensi keuntungan ganda dalam satu siklus usaha. Sistem ini memadukan kandang ayam dengan kolam ikan sehingga limbah ternak tidak langsung terbuang, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari ekosistem budidaya. Konsep tersebut dinilai cocok diterapkan di pekarangan rumah hingga lahan terbatas di pedesaan.

Meski terlihat praktis, sistem ternak terpadu justru menuntut perencanaan yang lebih detail dibandingkan pola ternak tunggal. Ketidakseimbangan pada satu komponen, seperti kualitas air atau kepadatan ternak, dapat berdampak langsung pada komoditas lain. Karena itu, persiapan awal menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.

Banyak pelaku usaha pemula gagal bukan karena kurangnya modal, melainkan akibat tahapan persiapan yang dilewati tanpa perhitungan matang. Mulai dari desain kandang, pemilihan bibit, hingga pengelolaan limbah harus disusun secara kronologis dan terukur. Tanpa perencanaan yang benar, sistem terpadu berisiko berubah dari solusi efisien menjadi sumber kerugian.

1. Desain Kandang dan Kolam Terintegrasi Menjadi Fondasi Utama

Tahap pertama yang wajib dipersiapkan adalah desain kandang ayam dan kolam ikan yang saling terhubung secara fungsional. Kandang biasanya dibangun di atas kolam agar sisa pakan dan kotoran ayam dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi alami bagi perairan. Namun desain ini tidak boleh asal karena berpengaruh langsung pada kesehatan ternak.

Sirkulasi udara pada kandang harus dirancang optimal agar kelembapan tetap terjaga dan kotoran ayam tidak cepat membusuk. Ventilasi yang baik membantu mengurangi bau serta menekan risiko penyakit pernapasan pada ayam. Selain itu, konstruksi kandang perlu cukup kuat untuk menahan beban ternak dan aktivitas harian.

Lantai kandang sebaiknya dibuat berongga dengan jarak yang terukur agar kotoran tidak jatuh secara berlebihan ke kolam. Jika jumlah limbah terlalu banyak, air kolam berisiko tercemar dan meracuni ikan. Desain yang seimbang akan membantu sistem terpadu berjalan stabil sejak awal.

2. Manajemen Kualitas Air dan Aerasi Menentukan Umur Ikan

Setelah desain fisik siap, perhatian utama beralih pada pengelolaan kualitas air kolam. Air menjadi media hidup ikan yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Dalam sistem terpadu, air kolam harus mampu menampung tambahan nutrisi tanpa mengalami penurunan kualitas drastis.

Kotoran ayam yang masuk ke kolam dapat meningkatkan kadar amonia jika tidak diimbangi dengan manajemen yang tepat. Oleh karena itu, aerasi menjadi kebutuhan mutlak untuk menjaga kadar oksigen terlarut tetap stabil. Aerator atau kincir air membantu sirkulasi air dan mencegah endapan berbahaya di dasar kolam.

Pemantauan pH dan kejernihan air perlu dilakukan secara rutin agar kondisi kolam tetap ideal. Perubahan warna atau bau air sering menjadi tanda awal gangguan ekosistem. Dengan manajemen air yang baik, ikan dapat tumbuh optimal meski berada di bawah kandang ayam.

3. Pemilihan Bibit Ikan dan Ayam Menentukan Awal Produksi

Tahap berikutnya adalah memilih bibit ikan dan ayam yang sesuai dengan karakter sistem terpadu. Bibit ayam harus sehat, aktif, dan bebas penyakit agar mampu beradaptasi dengan lingkungan kandang di atas kolam. Kesalahan memilih bibit sering menjadi penyebab kegagalan di fase awal pemeliharaan.

Jenis ayam yang dipilih umumnya disesuaikan dengan tujuan usaha, apakah untuk produksi daging atau telur. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan dan manajemen berbeda yang harus dipahami sejak awal. Penyesuaian ini penting agar produktivitas tetap optimal.

Sementara itu, ikan yang dipilih sebaiknya memiliki daya tahan tinggi terhadap fluktuasi kualitas air. Kepadatan tebar juga perlu diatur secara seimbang agar ikan tidak stres dan pertumbuhannya tetap merata. Kombinasi bibit yang tepat akan mempercepat stabilitas sistem terpadu.

4. Ketersediaan Pakan Berkualitas Menekan Risiko Kerugian

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha ternak, sehingga pengelolaannya harus direncanakan sejak awal. Dalam sistem terpadu, pakan ayam tetap menjadi kebutuhan utama meski sebagian limbahnya dimanfaatkan ikan. Kualitas pakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kesehatan ternak.

Pakan ayam harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan agar konversi pakan berjalan efisien. Kesalahan pemberian pakan tidak hanya meningkatkan biaya, tetapi juga menambah limbah berlebih di kolam. Karena itu, takaran dan jadwal pemberian pakan perlu diatur secara disiplin.

Untuk ikan, pakan tambahan tetap diperlukan meski ada nutrisi alami dari kolam. Banyak peternak mulai mengembangkan pakan fermentasi mandiri untuk menekan biaya operasional. Strategi ini dapat meningkatkan efisiensi tanpa menurunkan hasil panen.

5. Pengelolaan Limbah dan Sanitasi Menjaga Keseimbangan Sistem

Dalam sistem ternak terpadu, limbah bukan sekadar sisa produksi, melainkan bagian dari ekosistem yang harus dikendalikan. Kotoran ayam yang jatuh ke kolam perlu dikelola agar tidak menumpuk dan mencemari air. Tanpa pengelolaan yang tepat, limbah justru menjadi sumber masalah.

Penggunaan probiotik sering diterapkan untuk membantu mengurai limbah organik di dalam kolam. Proses ini mengubah kotoran menjadi nutrisi yang dapat dimanfaatkan plankton sebagai pakan alami ikan. Dengan cara ini, limbah dapat ditekan sekaligus meningkatkan produktivitas kolam.

Sanitasi kandang juga harus dilakukan secara rutin untuk mencegah penumpukan kotoran di area ayam. Lingkungan yang bersih akan menurunkan risiko penyakit dan meningkatkan kenyamanan ternak. Keseimbangan limbah menjadi kunci keberlanjutan sistem terpadu.

6. Biosekuriti dan Kesehatan Ternak Tidak Bisa Ditawar

Aspek biosekuriti sering diabaikan, padahal sangat krusial dalam sistem terpadu. Penyakit pada ayam dapat berdampak tidak langsung pada ikan melalui perubahan lingkungan kolam. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak awal pemeliharaan.

Kandang ayam perlu dirancang agar mudah dibersihkan dan didesinfeksi secara berkala. Jalur keluar masuk manusia dan peralatan juga sebaiknya dibatasi untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Langkah sederhana ini dapat menekan kerugian besar di kemudian hari.

Kolam ikan harus dilindungi dari hama dan predator yang dapat merusak ekosistem. Penempatan kandang yang tidak terlalu dekat dengan permukiman juga penting untuk menghindari gangguan bau. Biosekuriti yang baik akan menjaga stabilitas produksi jangka panjang.

7. Perencanaan Modal dan Pemasaran Menentukan Keberlanjutan Usaha

Tahap terakhir sebelum memulai usaha adalah menyusun perencanaan modal dan strategi pemasaran. Modal awal harus mencakup pembangunan kandang, kolam, pembelian bibit, pakan, serta biaya operasional beberapa bulan pertama. Tanpa perhitungan matang, usaha berisiko berhenti di tengah jalan.

Selain modal, target pasar perlu ditentukan sejak awal agar hasil panen tidak menumpuk. Ikan dan ayam memiliki siklus panen yang berbeda sehingga strategi penjualan harus disesuaikan. Kepastian pasar membantu menjaga arus kas tetap sehat.

Dengan perencanaan pemasaran yang jelas, peternak dapat menentukan skala produksi yang realistis. Langkah ini juga membantu menghindari fluktuasi harga yang merugikan. Kombinasi perencanaan modal dan pasar menjadi penutup penting sebelum sistem terpadu dijalankan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ternak Ikan dan Ayam Terpadu

1. Apakah ternak ikan dan ayam terpadu cocok untuk pemula?

Cocok untuk pemula selama persiapan dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru memulai produksi.

2. Berapa ukuran ideal kolam untuk sistem terpadu?

Ukuran kolam disesuaikan dengan jumlah ayam dan kepadatan ikan agar kualitas air tetap terjaga.

3. Apakah kotoran ayam selalu aman untuk ikan?

Aman jika jumlahnya terkendali dan diimbangi dengan aerasi serta pengelolaan limbah yang baik.

4. Apa risiko terbesar dalam sistem ternak terpadu?

Risiko terbesar berasal dari kualitas air yang buruk dan sanitasi kandang yang tidak terjaga.

5. Apakah sistem ini bisa diterapkan di pekarangan rumah?

Bisa diterapkan di pekarangan dengan catatan desain kandang dan kolam disesuaikan dengan luas lahan.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |