Liputan6.com, Jakarta - Masalah spons cuci piring yang mengeluarkan bau tidak sedap adalah keluhan umum di banyak rumah tangga. Bahkan, meskipun sudah rajin mengganti spons secara berkala, aroma amis dan kurang menyenangkan seringkali kembali muncul dalam waktu singkat. Pertanyaan yang sering muncul adalah, spons cuci piring bau meski sering diganti? Solusi yang sebenarnya terletak pada pemahaman lebih dalam tentang perawatan dan penggunaan yang tepat, bukan hanya frekuensi penggantian.
Banyak orang beranggapan bahwa mengganti spons secara rutin sudah cukup untuk menjaga kebersihan dapur. Namun, kenyataannya, untuk mengatasi spons cuci piring bau meski sering diganti solusinya diperlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai penyebab utama timbulnya bau dan berkembangnya bakteri. Spons yang terlihat bersih dari luar belum tentu bebas dari mikroorganisme berbahaya yang bisa menimbulkan aroma tidak sedap dan berpotensi mencemari peralatan dapur lainnya.
Berikut ini telah LIputan6 kupas secara tuntas mengenai penyebab spons cuci piring bau meski sering diganti dan solusinya dengan pendekatan praktis yang mudah diterapkan, pada Senin (5/1/2026). Kami akan membahas berbagai metode pembersihan yang efektif, tips pencegahan, hingga tanda-tanda kapan spons harus segera diganti.
Penyebab Utama Spons Dapur Berbau Tak Sedap
Kelembapan Berlebih: Sarang Ideal Bakteri
Spons dapur menjadi lingkungan sempurna bagi bakteri untuk berkembang biak karena kondisi lembap, hangat, dan adanya sisa makanan. Kelembapan tinggi pada spons menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan bakteri, jamur, dan kapang. Apabila spons tidak dikeringkan sempurna setelah digunakan, air yang terperangkap dalam pori-porinya menjadi tempat mikroorganisme berkembang biak. Kondisi lembap dan hangat di area wastafel dapur semakin mempercepat proliferasi bakteri yang menghasilkan bau tak sedap.
Tekstur spons yang berpori memungkinkan air dan kelembapan bertahan lebih lama dibandingkan material halus lainnya. Spons dapat menampung miliaran bakteri per sentimeter kubik, termasuk patogen berbahaya seperti E. coli dan Salmonella. Proses metabolisme bakteri inilah yang menghasilkan senyawa kimia berbau busuk yang sulit dihilangkan, meskipun spons sudah dibilas berulang kali.
Residu Makanan dan Kotoran yang Menempel
Partikel kecil sisa makanan yang menempel pada permukaan dan tersangkut di dalam pori-pori spons menjadi sumber nutrisi utama bagi bakteri. Lemak, protein, dan karbohidrat dari sisa makanan menyediakan makanan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan koloni bakteri yang pesat. Semakin lama sisa makanan tertinggal, semakin banyak bakteri yang dapat berkembang dan semakin kuat bau yang dihasilkan.
Kontaminasi silang juga sering terjadi ketika spons yang sama digunakan untuk membersihkan berbagai jenis kotoran. Misalnya, dari sisa makanan berminyak hingga kotoran dari permukaan yang kurang bersih. Penggunaan spons untuk membersihkan daging mentah atau produk hewani lainnya dapat meninggalkan residu protein yang sangat disukai bakteri patogen. Tanpa pembersihan yang tepat, kontaminasi ini akan terakumulasi dan menciptakan bau yang semakin menyengat.
Dampak Usia dan Kualitas Material Spons
Spons yang sudah terlalu lama digunakan akan mengalami degradasi material, membuatnya semakin sulit dibersihkan secara menyeluruh. Seiring waktu, struktur pori-pori menjadi lebih kasar dan rusak, menciptakan celah-celah kecil tempat bakteri dapat bersembunyi dari proses pembersihan biasa. Material yang sudah aus juga kehilangan kemampuan untuk melepaskan kotoran dengan mudah saat dibilas.
Kualitas spons yang rendah cenderung lebih cepat rusak dan sulit dirawat. Material sintetis berkualitas buruk dapat mengalami perubahan tekstur, membuat permukaannya menjadi lebih kasar dan mudah menahan kotoran. Spons berkualitas rendah juga lebih mudah menyerap dan menahan bau, sehingga meskipun sudah dicuci berulang kali, tetap mengeluarkan aroma tidak sedap.
Solusi Efektif Mengatasi Spons Dapur Berbau
Pentingnya Pengeringan Spons yang Optimal
Pengeringan sempurna adalah langkah fundamental untuk mencegah pertumbuhan bakteri pada spons. Setelah setiap penggunaan, peras spons hingga tidak ada air yang menetes, lalu letakkan di tempat dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan spons dalam wadah tertutup atau area lembap seperti di bawah wastafel. Posisikan spons berdiri atau digantung agar semua permukaannya terpapar udara untuk pengeringan maksimal.
Untuk mempercepat proses pengeringan, Anda bisa meletakkan spons di dekat jendela yang terkena sinar matahari atau menggunakan kipas kecil. Rotasi posisi spons secara berkala juga membantu memastikan semua bagian mengering merata. Spons yang benar-benar kering akan terasa keras dan tidak memiliki area lembap saat diraba.
Pembersihan Mendalam dengan Microwave
Metode microwave sangat efektif membunuh bakteri dan kuman dalam waktu singkat. Pastikan spons dalam keadaan basah (bukan kering) untuk mencegah terbakar, lalu panaskan selama 1-2 menit pada daya tinggi. Uap panas yang dihasilkan akan menembus seluruh pori-pori spons dan mengeliminasi mikroorganisme berbahaya. Biarkan spons dingin 10-15 menit sebelum dikeluarkan untuk menghindari luka bakar.
Penelitian menunjukkan bahwa microwave dapat membunuh sebagian besar bakteri pada spons. Lakukan proses ini 2-3 kali seminggu atau setiap kali spons mulai berbau. Setelah proses microwave, bilas spons dengan air bersih dan peras hingga tidak ada air berlebih. Metode ini tidak hanya membunuh bakteri tetapi juga membantu mengangkat sisa-sisa kotoran yang tertinggal. Penting untuk tidak menggunakan metode ini pada spons yang mengandung logam.
Perendaman dengan Larutan Pembersih Alami
Larutan Cuka Putih: Cuka adalah disinfektan alami yang dapat digunakan untuk membersihkan spons. Rendam spons dalam cuka putih murni selama sekitar lima menit. Cuka memiliki sifat asam yang mampu memecah protein dan lemak, sekaligus membunuh bakteri secara alami. Bilas spons secara menyeluruh dengan air bersih setelah perendaman untuk menghilangkan sisa cuka.
Larutan Baking Soda: Baking soda dapat menjadi pembersih spons yang efektif dan ramah lingkungan. Campurkan beberapa sendok makan baking soda dengan air untuk membuat pasta, lalu gosokkan pada spons. Baking soda bersifat abrasif ringan yang dapat mengangkat kotoran membandel sambil menetralkan bau. Bilas spons secara menyeluruh setelah menggosok. Baking soda juga membantu menghilangkan noda dan residu.
Disinfeksi Menggunakan Pemutih
Pemutih (bleach) merupakan disinfektan kuat yang mampu membunuh hampir semua jenis bakteri, virus, dan jamur. Larutkan 1/4 hingga 1/2 sendok teh pemutih klorin pekat (8,25% hipoklorit) dalam satu liter air hangat. Rendam spons selama 1-5 menit. Bilas spons berulang kali dengan air bersih hingga tidak ada sisa bau pemutih. Selalu gunakan sarung tangan dan pastikan ventilasi ruangan baik saat menggunakan larutan ini.
Metode ini sangat efektif untuk spons yang sudah sangat berbau atau terkontaminasi berat. Namun, penggunaan pemutih sebaiknya tidak terlalu sering karena dapat merusak struktur spons dan mengurangi daya tahan material. Setelah proses pemutihan, pastikan spons benar-benar kering sebelum digunakan kembali.
Tips Pencegahan dan Perawatan Spons Optimal
Menerapkan Sistem Rotasi Spons Ganda
Menggunakan dua spons secara bergantian adalah strategi efektif untuk menjaga kebersihan dan memperpanjang usia pakai masing-masing spons. Ketika satu spons digunakan untuk mencuci, spons lainnya dapat dikeringkan sempurna atau sedang dalam proses pembersihan mendalam. Sistem rotasi ini memastikan setiap spons mendapat waktu cukup untuk kering dan bebas dari kelembapan yang menjadi sarang bakteri.
Tandai spons dengan warna berbeda atau simpan di tempat terpisah untuk memudahkan identifikasi. Rotasi harian akan memberikan waktu minimal 24 jam bagi setiap spons untuk mengering sempurna. Sistem ini juga mengurangi intensitas penggunaan pada setiap spons sehingga material tidak cepat aus dan lebih mudah dibersihkan.
Pemisahan Spons Berdasarkan Fungsi
Gunakan spons yang berbeda untuk aktivitas pembersihan yang berbeda guna mencegah kontaminasi silang. Spons khusus untuk mencuci piring sebaiknya tidak digunakan untuk membersihkan permukaan dapur, wastafel, atau area lainnya. Spons untuk membersihkan daging mentah harus benar-benar terpisah dan mendapat perlakuan disinfeksi ekstra ketat, atau lebih baik menggunakan tisu dapur sekali pakai.
Beri label atau gunakan warna berbeda untuk setiap fungsi spons. Sistem pemisahan ini tidak hanya menjaga kebersihan tetapi juga mencegah transfer bakteri berbahaya dari satu area ke area lainnya. Hal ini krusial untuk menjaga higienitas seluruh area dapur.
Jadwal Penggantian Spons yang Tepat
Ganti spons secara teratur setiap 1-2 minggu atau segera ketika muncul tanda-tanda kerusakan seperti bau yang tidak bisa dihilangkan, perubahan warna, atau tekstur yang kasar. Beberapa ahli merekomendasikan penggantian mingguan untuk mengurangi risiko bakteri. Jangan tunggu hingga spons benar-benar rusak, karena pada tahap tersebut bakteri sudah berkembang sangat pesat.
Buat pengingat di kalender atau smartphone untuk mengingatkan jadwal penggantian spons. Investasi dalam spons berkualitas baik akan lebih ekonomis dalam jangka panjang karena lebih tahan lama dan mudah dirawat.
Tanda-Tanda Spons Harus Segera Diganti
Indikator Visual dan Perubahan Tekstur
Spons yang sudah waktunya diganti biasanya menunjukkan perubahan visual yang jelas, seperti warna yang memudar, noda yang tidak bisa dihilangkan, atau munculnya bercak-bercak gelap. Tekstur spons yang awalnya lembut dan elastis akan menjadi kasar, kaku, atau mudah sobek saat diperas. Pori-pori yang tadinya uniform akan tampak tidak beraturan atau rusak.
Perhatikan juga perubahan bentuk spons yang menjadi tidak simetris atau mengalami deformasi permanen. Spons yang sudah aus akan kehilangan kemampuan untuk kembali ke bentuk semula setelah diperas. Munculnya lubang-lubang kecil atau area yang mulai terkelupas juga merupakan tanda bahwa spons sudah tidak efektif lagi untuk pembersihan.
Bau yang Persisten dan Tak Hilang
Bau yang tidak hilang meskipun sudah dicuci berulang kali dengan berbagai metode pembersihan adalah indikator paling jelas bahwa spons sudah harus diganti. Aroma amis, asam, atau busuk yang menetap menandakan bahwa bakteri sudah mengkolonisasi spons terlalu dalam dan tidak bisa dieliminasi sepenuhnya. Pada tahap ini, spons justru dapat menjadi sumber kontaminasi bagi peralatan yang dicuci.
Jika setelah pembersihan dengan microwave, cuka, baking soda, dan pemutih bau masih tercium, artinya struktur spons sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Penggunaan spons berbau dapat mentransfer bakteri dan bau tidak sedap ke piring dan peralatan dapur lainnya, sehingga justru kontraproduktif dengan tujuan pembersihan.
Tanya Jawab (Q&A)
Q: Seberapa sering sebaiknya spons cuci piring diganti?
A: Idealnya spons diganti setiap 1-2 minggu sekali atau segera jika sudah menimbulkan bau yang tidak bisa dihilangkan. Frekuensi penggantian juga tergantung intensitas penggunaan - keluarga besar mungkin perlu mengganti lebih sering dibanding keluarga kecil.
Q: Apakah aman menggunakan pemutih untuk membersihkan spons?
A: Ya, aman jika digunakan sesuai takaran yang tepat (1.5 sdt per 4 gelas air) dan dibilas bersih setelahnya. Pastikan ruangan berventilasi baik dan gunakan sarung tangan. Jangan gunakan pemutih terlalu sering karena dapat merusak material spons.
Q: Bisakah spons dicuci di mesin cuci untuk membersihkannya?
A: Tidak direkomendasikan karena spons dapat rusak oleh agitasi mesin cuci dan dapat menyumbat saluran pembuangan. Metode manual dengan perendaman dan pembersihan tangan lebih efektif dan aman untuk spons.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481443/original/045890400_1769132822-noFilter.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479491/original/006875800_1768980077-pohon_kelengkeng.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3987911/original/095414600_1649311271-jeppe-vadgaard-PnFgNgCkBXY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482073/original/043743000_1769157829-botol_dengan_sedotan__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5396911/original/005107000_1761795438-halaman_belakang_rumah_kecil_dengan_kebun_hidroponik_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482215/original/002800200_1769166104-Budidaya_Ikan_Nila.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482021/original/076088800_1769155411-duku__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482049/original/048374800_1769157048-menanam_cabai_tanpa_tanah_6a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482223/original/099475100_1769166479-Model_Plafon_Teras_Rumah_Kecil_yang_Bikin_Area_Depan_Terasa_Lebih_Tinggi_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482027/original/002012200_1769156010-ChatGPT_Image_Jan_23__2026__02_45_39_PM.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444200/original/086252100_1765773160-gkg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480264/original/037795400_1769051262-Kombinasikan_dengan_Pakan_Hijauan_Segar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481955/original/097546900_1769152614-desain_teras_rumah_lahan_terbatas__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275552/original/044237000_1751882343-pexels-matthias-oben-2060028-3687927.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481878/original/087568900_1769150171-AA_Budidaya_Ikan_Nila_dengan_Azolla.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481888/original/095671600_1769150212-ikan_gabus__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482156/original/015904800_1769162872-Warna_Lantai_Teras_Rumah_Kecil_yang_Bikin_Area_Depan_Terasa_Lebih_Luas_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481808/original/032997500_1769147564-Gaya_Minimalis_dengan_Sentuhan_Kaca__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481807/original/063984500_1769147414-kandang_long_yam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482095/original/031157300_1769159220-Meja_Bar_Dapur_Minimalis_yang_Bagus_untuk_Rumah_KPR.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)