Liputan6.com, Jakarta - Fakta dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2020 menunjukkan bahwa 39,8% dari total sampah di Indonesia adalah sisa makanan. Ironisnya, di saat yang sama, sekitar 8,34% penduduk kita masih mengalami kekurangan pangan. Setiap sendok nasi, potongan sayur, atau kulit buah yang terbuang bukan hanya soal ekonomi rumah tangga, tetapi juga menyumbang pada masalah lingkungan yang lebih besar.
Namun, di balik tumpukan sampah dapur itu tersimpan potensi yang sering kita abaikan. Pertanyaan "sisa makanan bisa jadi apa?" sebenarnya membuka pintu menuju kreativitas, penghematan, dan kepedulian lingkungan. Daripada berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana yang memperparah pemanasan global, sisa makanan bisa diolah menjadi berbagai produk berguna.
Artikel ini akan menjawab rasa penasaran Anda dengan menyajikan kumpulan ide nyata dan praktis. Dari kreasi kuliner lezat hingga produk perawatan rumah dan tanaman, mari kita ubah pola pikir dan melihat sisa makanan sebagai bahan baku, bukan sampah. Jadi simak kumpulan produk yang bisa dihasilkan dari sisa makanan berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (17/1/2026).
1. Kaldu Kaya Rasa dari Tulang & Sisa Sayuran
Jangan langsung membuang tulang ayam, sapi, atau ikan setelah dagingnya habis. Bagian-bagian ini, bersama dengan kepala udang, kulit bawang, batang brokoli, dan sisa sayuran bersih lainnya, adalah bahan dasar untuk membuat kaldu yang kaya rasa dan nutrisi. Prosesnya sederhana, masukkan semua bahan ke dalam panci atau slow cooker, tutup dengan air, dan rebus dengan api kecil selama beberapa jam hingga air berubah warna dan mengeluarkan aroma gurih. Setelah disaring, kaldu alami ini bisa langsung digunakan untuk kuah sop, laksa, atau nasi goreng, atau dibekukan dalam cetakan es batu sebagai stok praktis di freezer. Dilansir dari Healthline, kaldu tulang buatan sendiri tidak hanya lezat tetapi juga bisa menjadi minuman hangat yang menyehatkan.
2. 'Second Life' untuk Nasi, Roti, dan Buah Matang
Nasi yang tersisa sering dianggap sudah tidak berguna. Padahal, dengan sedikit kreativitas, ia bisa menjelma menjadi nasi goreng, bubur, atau bahkan bahan untuk cireng dan rengginang. Roti tawar yang mulai mengering pun tidak perlu dibuang. Potong dadu, campur dengan minyak dan bumbu, lalu panggang untuk dijadikan crouton renyah pendamping salad dan sup. Roti basi juga bisa direndam dalam adonan susu dan telur untuk dibuat menjadi puding roti yang lembut dan mengenyangkan. Sementara itu, buah pisang atau lainnya yang terlalu matang adalah berkat tersembunyi. Mereka bisa diblender menjadi smoothie, dihaluskan untuk selai, atau dijadikan bahan utama muffin dan cake yang lembap.
3. Camilan & Pelengkap dari Bagian 'Terbuang'
Bagian sayur dan buah yang biasa kita kupas dan buang justru bisa menjadi camilan istimewa. Kulit kentang atau singkong yang telah dicuci bersih hingga kesat, diolesi minyak, dan diberi bumbu garam atau kaldu, lalu dipanggang hingga garing, akan menjadi keripik kulit yang renyah dan gurih. Kulit semangka pun bisa dimanfaatkan dengan cara direbus dalam larutan cuka, gula, dan garam untuk dijadikan acar yang unik dan segar. Jangan lupakan batang sayuran hijau seperti kangkung atau sawi yang keras. Potong kecil-kecil dan tumis dengan bawang dan bumbu, maka Anda akan mendapatkan lauk pendamping yang tak kalah nikmat dari daunnya.
4. Pupuk Kompos & Eco-Enzyme, Nutrisi Alami untuk Tanaman
Mengubah sisa dapur menjadi pupuk adalah bentuk nyata ekonomi sirkular di rumah. Pupuk kompos dibuat dengan menguraikan sampah organik (sisa sayur, kulit buah, daun kering) dengan bantuan mikroorganisme. Puslitbang Kementerian Pertanian bahkan memiliki panduan membuat dekomposer (MOL) sederhana dari air cucian beras atau air kelapa yang dicampur dengan sampah dapur cincang dan gula, lalu difermentasi selama 14 hari. Alternatif lain adalah membuat Eco-Enzyme, yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi sisa organik, gula, dan air selama 3 bulan. Cairan ini dapat berfungsi sebagai pupuk cair, pembersih lantai alami, bahkan pengusir hama. Keduanya tidak hanya menyuburkan tanaman dan memperbaiki struktur tanah, tetapi juga secara signifikan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
5. Ampas Kopi, Sahabat Pekarangan
Setelah menikmati secangkir kopi, jangan buang ampasnya. Ampas kopi adalah pupuk organik yang kaya nitrogen, sebuah nutrisi penting bagi pertumbuhan daun tanaman. Caranya mudah, taburkan ampas kopi secara tipis di sekeliling tanaman atau campurkan dengan media tanam. Selain menambah nutrisi, ampas kopi juga membantu memperbaiki drainase tanah dan menarik cacing tanah yang menguntungkan. Namun, perlu diingat untuk tidak menumpuknya terlalu tebal karena dapat menggumpal dan menghalangi penyerapan air oleh akar.
6. Pengharum Ruangan Alami dari Kulit Jeruk
Menciptakan aroma segar di rumah tidak harus dengan bahan kimia. Kulit jeruk yang sering dibuang bisa menjadi pengharum ruangan alami yang efektif. Rebus kulit jeruk bersama rempah-rempah seperti kayu manis batang atau cengkeh. Aroma sitrus yang segar dan hangat dari rempah akan menyebar ke seluruh ruangan, menetralisir bau tidak sedap secara alami. Anda juga bisa mengeringkan kulit jeruk dan mencampurnya dengan rempah kering untuk dijadikan potpourri dalam mangkuk terbuka.
7. Pakan Ternak Protein Tinggi dari Maggot BSF
Untuk skala yang lebih besar, solusi pengolahan sampah makanan bisa menjadi peluang ekonomi. Seperti ditunjukkan oleh komunitas di Denpasar dan Bekasi, sampah organik dapat diumpankan kepada lalat Black Soldier Fly (BSF). Larva atau maggot BSF yang dihasilkan adalah sumber protein yang sangat tinggi dan berkualitas, ideal untuk pakan ayam, ikan, dan burung. Proses ini disebut biokonversi. Yang lebih menarik, kotoran dari maggot itu sendiri merupakan pupuk organik berkualitas. Ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang sempurna: sampah makanan diolah menjadi pakan, pakan menghasilkan ternak, dan kotoran dari prosesnya kembali menyuburkan tanah.
8. Biogas, Sumber Energi Terbarukan
Potensi lain dari sampah makanan organik dalam jumlah besar adalah produksi biogas. Melalui proses penguraian anaerob (tanpa oksigen) dalam digester, bakteri akan mengubah bahan organik menjadi gas metana. Gas ini kemudian dapat dimurnikan dan digunakan sebagai sumber energi untuk memasak atau bahkan dikonversi menjadi listrik. Meskipin memerlukan investasi awal dan pengelolaan teknis, sistem biogas sangat cocok untuk restoran, industri pangan, atau komunitas yang menghasilkan sampah organik secara konsisten, mengubah masalah lingkungan menjadi sumber energi terbarukan.
Tips Praktis Memulai Mengelola Sisa Makanan di Rumah
Memulai kebiasaan baik ini tidak perlu rumit. Berikut tips sederhana untuk dipraktikkan:
- Pilah dari Sumber: Sediakan dua wadah sampah di dapur, satu untuk sisa organik (sisa makanan, kulit buah) dan satu untuk non-organik (plastik, kemasan). Ini memudahkan langkah pengolahan selanjutnya.
- Simpan dengan Cerdas: Jika belum sempat mengolah, bekukan bahan-bahan yang masih potensial. Tulang untuk kaldu atau sisa pasta tomat bisa disimpan dalam cetakan es batu di freezer hingga waktunya digunakan.
- Mulai dari yang Mudah: Jangan langsung mencoba proyek besar seperti kompos. Cobalah membuat kaldu sayur dari kulit bawang dan wortel, atau memanfaatkan ampas kopi untuk tanaman hias terlebih dahulu.
- Edukasi Keluarga: Ajak seluruh anggota rumah untuk memahami pentingnya mengurangi dan mengolah sisa makanan. Kebiasaan ini akan lebih efektif dan menyenangkan jika dilakukan bersama-sama.
FAQ Seputar Olahan Sisa Makanan
Q1: Apa saja sisa makanan yang TIDAK boleh dijadikan kompos atau pakan maggot?
A: Untuk kompos rumahan sederhana, hindari produk hewani berlemak tinggi (sisa santan, daging berlemak), susu, tulang besar, dan makanan yang mengandung minyak, garam, atau penyedap rasa berlebihan karena dapat mengundang hama dan menghambat proses penguraian. Untuk pakan maggot BSF, meski mereka dapat mengonsumsi berbagai macam sampah organik, ada baiknya berkonsultasi dengan peternak BSF berpengalaman terkait komposisi yang optimal.
Q2: Apakah aman mengonsumsi olahan dari kulit buah dan sayur?
A: Aman, dengan syarat. Pastikan buah dan sayur berasal dari sumber yang terpercaya. Cucilah kulit dengan sangat bersih di bawah air mengalir. Untuk mengurangi residu pestisida, Anda dapat merendamnya sebentar dalam larutan air dengan baking soda atau cuka apel. Menggunakan produk organik adalah pilihan terbaik jika ingin memanfaatkan kulitnya.
Q3: Bagaimana cara mencegah bau tidak sedap saat membuat kompos di rumah?
A: Bau busuk biasanya muncul karena kompos terlalu basah dan prosesnya menjadi anaerob (kekurangan oksigen). Pastikan kompos tercampur dengan baik dan tidak terlalu padat. Tambahkan bahan "coklat" kering seperti daun kering, serbuk gergaji, atau sobekan kertas/koran untuk menyerap kelembaban berlebih dan menjaga sirkulasi udara. Bolak-balik tumpukan kompos secara berkala untuk memasukkan oksigen.
Q4: Selain yang disebutkan, adakah produk kreatif lain dari sisa makanan?
A: Tentu! Inovasi tidak ada habisnya. Contoh lain termasuk membuat kue suet untuk burung dari lemak daging asap yang dilelehkan dan dicampur biji-bijian, menumbuhkan kembali sayuran seperti daun bawang dan seledri dari pangkal batangnya yang direndam air, atau memadatkan ampas tebu dan serbuk kayu menjadi pelet bahan bakar/biobriket.
Q5: Mengapa mengurangi food waste penting bagi lingkungan?
A: Sisa makanan yang membusuk di TPA menghasilkan gas metana (CH4), sebuah gas rumah kaca yang dampaknya 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO2) dalam memerangkap panas di atmosfer. Dengan mengurangi dan mengolah food waste, kita tidak hanya memotong emisi gas metana, tetapi juga menghemat sumber daya yang sangat besar seperti air, energi, dan lahan yang telah dikorbankan untuk memproduksi makanan yang akhirnya terbuang percuma.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)