Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan bisa menekan pengeluaran pangan hingga 70% sambil menikmati sayuran segar dan protein berkualitas setiap hari dari halaman rumah sendiri. Inilah yang berhasil diwujudkan oleh Piramida Projects, sebuah inisiatif anak muda di Yogyakarta yang membuktikan bahwa integrated farming atau pertanian terpadu skala rumahan bukan sekadar mimpi.
Taufik Azhari, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan, bersama timnya memulai Piramida Projects pada November 2025 dengan tujuan sederhana, menekan pengeluaran agar bisa menabung tanpa harus bekerja untuk orang lain. Hanya dalam tiga bulan, sistem kombinasi kebun dan peternakan yang hemat pupuk dan pakan ini membuktikan keampuhannya. Mereka bisa panen telur setiap hari, memanen lele kapan pun dibutuhkan, dan memetik sayuran segar tanpa harus ke pasar.
Sistem ini bukan hanya menghemat biaya, tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling mendukung, di mana kotoran ayam menjadi pupuk, air lele menyuburkan tanaman, sampah dapur diurai maggot yang kemudian menjadi pakan ternak. Artikel ini akan membimbing Anda melalui 9 langkah praktis membangun sistem serupa, bahkan di lahan terbatas sekalipun.
1. Rencanakan Sistem yang Sesuai Lahan
Langkah pertama dalam membangun kombinasi kebun dan peternakan yang hemat pupuk dan pakan adalah menentukan sistem yang tepat berdasarkan luas lahan Anda. Taufik menjelaskan bahwa untuk ayam petelur, ada dua sistem utama yang bisa dipilih. Sistem charger cocok untuk lahan sangat sempit. Dalam sistem ini, ayam dikurung satu per satu dalam kandang individual.
"Sistem charger itu maksudnya kayak dia seperti di-charge, ketika dia tidak bertelur, tugasnya adalah makan. Dia cukup makan, menghasilkan telur, dan membuang kotoran. Cuma itu aja," jelas Taufik kepada reporter Liputan6.com pada Selasa, 13 januari 2026. Namun, tantangan utamanya adalah pengelolaan kotoran basah yang langsung jatuh.
Sebaliknya, sistem umbaran memberikan kebebasan ayam untuk berkeliaran, menggaruk tanah, dan mandi debu, seperti yang diterapkan Piramida Projects.
"Umbaran itu ayam bisa main ke mana-mana, dia bisa ngorek-ngorek, bisa mandi dan lain sebagainya. Itu untuk orang-orang yang setidaknya punya lahan yang sedikit lebih besar," kata Taufik. Sistem ini tidak hanya lebih ramah bagi ayam, tetapi juga membantu mengelola kotoran secara alami melalui metode cekerator.
Pertimbangan utama dalam memilih sistem adalah kebahagiaan hewan. Taufik menekankan, "Memelihara ayam petelur itu kayak memelihara ibu hamil. Stres sangat mempengaruhi. Jadi hindari stres ayam—suara bising, makan telat, itu mengurangi produktivitasnya." Ayam yang stres tidak akan produktif bertelur, sehingga kenyamanan hewan harus menjadi prioritas.
2. Tentukan Jumlah Hewan Ternak
Setelah sistem ditentukan, langkah berikutnya adalah menghitung jumlah hewan ternak yang ideal untuk skala rumahan. Untuk ayam petelur, rumus sederhananya adalah: jumlah ayam = jumlah anggota keluarga + 2 ekor cadangan.
Taufik berbagi pengalamannya, "Keluarganya lima, berarti punya ayam lima dulu. Setidaknya satu orang itu akan mendapatkan satu porsinya setiap hari. Setelah kami coba, ternyata ayam itu bertelur tidak barengan. Hari ini ada yang lima, yang bertelur tiga misalnya." Oleh karena itu, tim Piramida Projects menyimpulkan bahwa untuk keluarga lima orang, idealnya memelihara tujuh ayam.
Dua ekor tambahan ini berfungsi sebagai cadangan untuk memastikan setiap anggota keluarga mendapatkan jatah telur setiap hari, mengingat tidak semua ayam bertelur di waktu yang sama. "Dua itu untuk tetap melengkapi isi nutrisi rumahan yang setidaknya setiap anggota keluarga mendapatkan jatah telur setiap hari," tambah Taufik.
Untuk budidaya lele, Piramida Projects menebar 1.000 bibit di kolam berukuran 2×4 meter. Namun pemula bisa memulai lebih kecil, bahkan dengan 100 bibit di kolam terpal 1×1 meter atau bekas tandon air.
"Karena kami memulainya dengan tandon bekas yang rusak, ya kita pakai 100 dulu, ternyata bisa," kenang Taufik. Yang penting adalah memahami manajemen kualitas air terlebih dahulu sebelum menambah jumlah.
3. Kelola Pakan dengan Cermat
Manajemen pakan merupakan kunci sukses dalam sistem kombinasi kebun dan peternakan yang hemat pupuk dan pakan. Setiap jenis ternak memiliki kebutuhan nutrisi berbeda yang harus dipahami dengan baik.Untuk ayam petelur, jangan sampai memberikan pakan seperti untuk ayam pedaging.
"Jangan sampai ayam bertelur kita kasih kayak ayam pedaging. Nanti dia malah jadi yang berdaging, dia enggak produktif bertelur," Taufik meperingatkan.
Piramida Projects menerapkan jadwal pemberian pakan tiga kali sehari dengan porsi kecil namun fresh. "Ada yang sehari dua kali, ada yang sehari tiga kali. Kami menggunakan yang sehari tiga kali supaya ayam bisa menikmati yang fresh terus," jelas Taufik. Sistem ini lebih baik daripada memberi pakan dua kali dengan jumlah besar yang bisa mengendap dan basi.
Untuk menghemat biaya pakan, gunakan alternatif alami. Untuk lele, Taufik menyarankan pola pemberian: pagi pelet, siang azolla, sore maggot. Maggot memiliki nutrisi setara 1:2 dari pelet. Artinya 2 gram maggot setara 1 gram pelet. Dengan pola ini, satu karung pelet seharga Rp250.000 bisa bertahan hingga tiga bulan.
4. Jaga Kualitas Air untuk Budidaya Lele
Dalam budidaya lele, kualitas air adalah faktor terpenting, bahkan lebih penting dari pemberian pakan. Taufik menekankan, "Jurus ampuh untuk sukses budidaya lele itu menurut kami kualitas air. Jadi penjagaan kualitas air itu justru lebih penting dibanding hanya sekadar memberi makan."
Banyak orang berpikir bahwa memelihara lele cukup dengan menaruh di kolam dan memberi makan. Namun kenyataannya, lele sangat sensitif terhadap kualitas air. "Kalau lele ini kapan kualitas air itu enggak bagus, dia bisa matinya masal. Umur berapa pun ketika airnya tidak bagus, maka dia akan mati masal," peringatan Taufik ini sangat penting untuk diperhatikan.
Langkah praktis menjaga kualitas air adalah dengan membuka saluran pembuangan setiap pagi selama 10-20 detik. "Setiap hari itu setidaknya membuka saluran air 10 detik aja. Saluran air itu dicabut, bagusnya sih pagi. Setiap pagi cabut saluran airnya supaya amonia yang terendap di bawah itu bisa keluar semua," jelas Taufik.
Untuk menstabilkan pH air, terutama setelah hujan yang bisa menaikkan pH, gunakan kapur dolomit atau daun pepaya untuk membunuh bakteri berbahaya. "Kalau pH terlalu tinggi kita harus mulai menetralkan lagi. Biasanya kami pakai kapur dolomit, atau pakai daun pepaya supaya bakteri-bakterinya mati," kata Taufik. Sebaliknya, untuk menaikkan pH yang terlalu rendah, cukup gunakan kapur pertanian biasa.
5. Manfaatkan Limbah Organik untuk Pupuk
Salah satu keunggulan utama sistem kombinasi kebun dan peternakan yang hemat pupuk dan pakan adalah kemampuannya mengubah limbah menjadi sumber daya berharga. Di Piramida Projects, kotoran ayam diolah menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi tanpa campur tangan manusia, yakni dengan metode yang mereka sebut cekerator.
Caranya sangat sederhana, taruh daun kering atau sekam ke kandang ayam. "Kita hanya menaruh daun kering atau sekam ke kandang ayam. Kalau kandang belum tertutup semua dengan daun-daun, bisa tambahkan sekam," jelas Taufik. Ayam kemudian akan mengaduk campuran ini dengan cakarnya secara alami saat menggaruk dan bergerak.
Proses pengomposan berlangsung selama 3-4 bulan tanpa perlu pembersihan kandang setiap hari. "Jadi kita enggak perlu bersihin kandang setiap hari. Dari 3 sampai 4 bulan itu akan mulai menjadi kompos yang sangat baik untuk tanaman," kata Taufik. Hasilnya, dalam tiga bulan bisa menghasilkan dua karung pupuk kompos yang bisa digunakan untuk beberapa bulan ke depan.
Limbah berharga lainnya adalah air kolam lele. Air ini kaya amonia dari kotoran lele yang merupakan nutrisi sempurna untuk tanaman. "Air lele itu kaya nutrisi karena adanya amonia dari lele yang diolah sendiri oleh mereka secara alami, yang itu bagus untuk tanaman," jelas Taufik. Piramida Projects menyiramkan air lele ke tanaman setiap tiga hari sekali, menggantikan kebutuhan pupuk kimia.
6. Budidaya Maggot sebagai Pengurai Sampah & Pakan
Maggot atau larva lalat BSF (Black Soldier Fly) adalah komponen revolusioner dalam sistem zero waste. Taufik mengungkapkan fakta mencengangkan, "Maggot itu akan menghabiskan 100 kg sampah dalam 10 gram maggot BSF. Dari telur sampai panen 24 hari sampai 1 bulan itu bisa menghabiskan 100 kg sampah."
Untuk memulai budidaya maggot, Anda bisa membeli telur maggot secara online seharga Rp2.000 per gram. Taufik merekomendasikan pembelian online karena keuntungan tak terduga, "Kenapa kami itu seringnya online? Karena di masa perjalanan telur itu ke rumah, dia sudah menetas. Jadi kita tidak perlu (menunggu) menetas lagi, nanti dia sudah langsung bisa dikasih makan."
Seminggu pertama, maggot yang baru menetas tidak boleh diberi sampah organik mentah. "Untuk di awal masa proses penetasan, itu tidak bisa diberikan sampah. Kita harus memberikan dia yang halus. Kalau kami biasanya pakai dedak atau bekatul," jelas Taufik. Bekatul dibasahkan hingga lembek (tidak terlalu becek) dan diberikan selama tujuh hari pertama. Setelah itu, maggot siap mengonsumsi sampah organik apa pun.
Panen maggot bisa dimulai saat usia dewasa (sekitar 2 minggu) untuk diberikan sebagai pakan ayam dan lele. "Di umur dewasa itu sudah mulai kami ambilin setiap hari untuk memberikan pakan, entah ayam, entah lele," kata Taufik. Dengan cara ini, Anda tidak perlu menunggu 24 hari penuh untuk panen, dan bisa terus merotasi siklus maggot sambil mengelola sampah dapur setiap hari.
7. Gunakan Pupuk Organik Cair Hasil Olahan Sendiri
Piramida Projects telah beralih 100% ke pupuk organik setelah menemukan bahwa pupuk kimia mengubah rasa hasil panen. "Dulu kami pernah pakai kimia-kimia kayak pupuk kimia dan lain-lain. Ternyata pas kita aplikasikan pupuk itu, rasanya berubah. Beda," kenang Taufik.
Membuat pupuk organik cair (POC) sangat mudah. Masukkan sampah organik ke dalam galon, lalu tambahkan mikroba pengurai. Piramida Projects kini mengembangkan produk mikroba sendiri setelah sebelumnya menggunakan EM4. "EM4 ini basisnya mikroba tertidur yang harus dibangunkan dengan cara menambahnya molase. Itu ribet untuk orang-orang yang pemula. Harus campur-campur-campur," jelas Taufik.
Aplikasi pupuk organik cair sangat hemat. Taufik menjelaskan, "Seminggu sekali kita menggunakan pupuk itu hanya 5 ml untuk 1 liter air. Untuk bisa ngabisin 1 liter pupuk itu bisa 3 bulan." Dengan dosis minimal ini, satu liter POC bisa bertahan tiga bulan, jauh lebih ekonomis dibanding pupuk kimia.
Yang penting, bedakan jenis pupuk untuk fase pertumbuhan berbeda. "Ada yang daun untuk tanaman sayuran daun, ada juga yang khusus sayuran buah. Masa vegetatif dan generatif itu beda," jelas Taufik. Saat tanaman dalam fase pertumbuhan daun (vegetatif), gunakan POC untuk daun. Ketika mulai berbunga dan berbuah (generatif), ganti ke POC untuk buah.
8. Pilih Tanaman yang Bisa Dipanen Berkali-kali
Untuk sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan, pilihlah tanaman yang bisa dipanen berkali-kali tanpa perlu menanam ulang. Taufik menjelaskan, "Kebanyakan sayuran yang ditanam ini tanam sekali, panen berkali-kali, karena ini untuk ketahanan pangan yang akan kita panen setiap hari."
Di Piramida Projects, mereka menanam kangkung, bayam brasil, sawi-sawian, kemangi, tomat, dan cabai. Bayam brasil adalah contoh sempurna. "Bayam brasil yang sebelah situ itu cuma 4 tanamannya. Sekarang udah full rice bed-nya. Karena kita panen," kata Taufik dengan bangga. Semakin sering dipanen, tanaman ini justru semakin lebat.
Metode panen potong-ulang mendorong pertumbuhan tunas baru. "Kemangi ini kalau kita gunting dia akan banyak lagi cabangnya. Itu juga dengan kangkung misalnya, bisa metodenya potong, nanti dia akan melahirkan daun-daun baru," jelas Taufik. Teknik ini juga berlaku untuk cabai dan terong yang terus menghasilkan buah selama dirawat dengan baik.
Dengan strategi ini, Anda tidak perlu repot menyemai benih setiap minggu. Tanaman yang sama terus produktif selama berbulan-bulan, asalkan disiram dengan air lele setiap tiga hari dan diberi POC seminggu sekali. Hasilnya adalah pasokan sayuran segar yang kontinu tanpa harus berulang kali ke pasar.
9. Buat Sistem Sirkular dan Monitor Kesehatan
Langkah terakhir adalah memastikan semua komponen sistem saling terhubung dalam siklus tertutup yang menjadi prinsip dasar integrated farming. Taufik menekankan, "Ketika ada limbah baru, maka kita sudah memikirkan bagaimana caranya mengelola limbah ini. Jadi kita tidak memberikan dampak buruk kepada tetangga."
Sistem sirkular di Piramida Projects bekerja sebagai berikut: sampah dapur diurai maggot → maggot menjadi pakan ayam dan lele → kotoran ayam menjadi kompos → air lele menyuburkan tanaman → sisa tanaman kembali ke maggot.
"Sistem ini tuh membuat hewannya bekerja untuk memberikan hasil dua kali. Ayam menghasilkan telur dan juga pupuk kompos. Ikan menghasilkan daging yang bagus dan juga pupuk lagi," jelas Taufik.
Monitoring kesehatan hewan sangat penting. Hindari faktor-faktor yang menyebabkan stres seperti suara bising, jadwal makan tidak teratur, dan lingkungan yang tidak nyaman.
"Stres sangat mempengaruhi. Dia enggak bisa manajemen pakannya yang berantakan. Dia akan tidak produktif memberikan telur ke kita," Taufik menekankan.
FAQ
Q: Apakah sistem ini bisa diterapkan di lahan sempit perkotaan?
A: Ya, sangat bisa. Piramida Projects sendiri berlokasi di perumahan kota Yogyakarta dengan lahan terbatas. Untuk lahan sempit, gunakan sistem charger untuk ayam petelur dan kolam terpal untuk lele. Anda bahkan bisa memulai dengan kolam terpal 1×1 meter untuk 100 bibit lele.
Q: Berapa penghematan yang bisa didapat dari sistem ini?
A: Berdasarkan perhitungan Piramida Projects, sistem kombinasi kebun dan peternakan yang hemat pupuk dan pakan ini bisa menekan pengeluaran pangan hingga 70-82%. Sebagai contoh konkret untuk ayam, satu karung pakan Rp350.000 bisa bertahan 3 bulan untuk 5 ayam. Dalam 3 bulan dengan produksi minimal 4 telur per hari, hasilnya masih untung Rp200.000-an.
Q: Bagaimana mengatasi bau pada kandang atau kolam?
A: Untuk kandang ayam, gunakan metode cekerator dengan menambahkan daun kering atau sekam yang akan diaduk alami oleh ayam. Sistem ini mencegah bau karena kotoran langsung tercampur dan terkompos. Untuk kolam lele, kunci utamanya adalah menjaga kualitas air dengan membuang amonia setiap pagi dan memastikan pH tetap stabil menggunakan kapur dolomit atau daun pepaya.
Q: Apakah perlu keahlian khusus untuk menjalankan sistem ini?
Tidak diperlukan keahlian khusus. Tim Piramida Projects sendiri tidak ada yang berlatar belakang pertanian—Taufik lulusan Ilmu Komunikasi, rekannya dari Manajemen, dan satu lagi dari Peternakan. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar, konsistensi, dan pengamatan yang teliti.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5066712/original/084845900_1735265296-WhatsApp_Image_2024-12-27_at_09.06.10.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)