Rahasia Ternak Ikan Nila untuk Bisnis Menguntungkan, Hemat Pakan Cuan Datang

4 hours ago 5

Liputan6.com, Jogja - Permintaan pasar yang cukup tinggi dan stabil membuat budidaya nila menjadi salah satu usaha perikanan air tawar primadona di kalangan peternak, termasuk di Indonesia. Hal itu pun selaras dengan data yang dipaparkan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, di mana dalam laman resminya disebutkan jika nila menjadi komoditas teratas dalam produksi ikan budidaya nasional 2025 sebesar 1.102.731,6 ton.  

Namun salah satu kendala utama yang paling sering dihadapi oleh para pembudidaya ikan adalah tingginya biaya pakan. Pakan pabrikan bisa menyerap hingga 60–70 persen dari total biaya produksi, sehingga margin keuntungannya pun menjadi terpengaruh. Cerita yang sama diutarakan Wiwid (32), pemilik BosKetjil Farm, bisnis peternakan ikan nila rumahan di Ponggok, Kabupaten Klaten, kepada Reporter Liputan6.com, Minggu, (18/1/2026).

“Kalau saya dan suami, tantangan budidaya ikan nila itu lebih ketersediaan pakan. Karena sekarang kan kondisinya peternak ikan dan lainnya bergantung dengan pabrik pakan olahan. Harga pakannya lumayan mahal. Di tahun 2022 saja, harga pakan ikan bisa sekitar Rp310.000-an per 30kg untuk kualitas terbaik. Kalau tahun sekarang harganya sudah lebih,” ujar Wiwid.

Untuk itulah, agar bisa memulai budidaya ikan nila dengan hasil optimal, terdapat beberapa faktor penting yang wajib diperhatikan, dari pemilihan benih, pemberian pakan, hingga kualitas air, sehingga tantangan yang ada bisa teratasi dengan solusi terbaik.

1. Pemilihan Benih Ikan Nila Berkualitas

Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budidaya. Benih ikan nila yang baik umumnya memiliki ukuran seragam, gerakan lincah, tidak cacat, dan bebas dari penyakit. Benih sebaiknya berasal dari hatchery atau pembenihan terpercaya agar kualitas genetiknya terjamin. Penggunaan benih unggul akan mempercepat pertumbuhan ikan serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup.

Seperti halnya Wiwid dan suaminya, awalnya mereka hanya mencoba peruntungan untuk berbisnis ikan nila sekadar dikonsumsi sendiri, modal pun hanya dari beberapa ekor saja. Namun lama-lama tertarik dikembangkan dengan pembibitan berkualitas di 4 kolam tanah ukuran 16x19.

“Awalnya (melihara ikan) karena ingin dikonsumsi pribadi. Tapi karena standar kolamnya bisa menampung cukup banyak ekor, ya akhirnya kami memutuskan berwirausaha membudidaya ikan nila. Ada sekitar 5000 ekor untuk konsumsi pasar,” Wiwid menceritakan.

2. Persiapan Kolam yang Optimal

Kolam yang digunakan untuk budidaya ikan nila harus dipersiapkan dengan baik sebelum penebaran benih. Ada berbagai jenis kolam, dari kolam semen, jaring terapung, tambak air payau, kolam semen, kolam tanah, dan lain-lain. Kolam tanah sejauh ini jadi yang cukup banyak digunakan karena efisiensi pembangunannya.

Kolam perlu dibersihkan dari kotoran dan organisme pengganggu, kemudian dikeringkan dan diberi kapur untuk menstabilkan pH air. Setelah itu, kolam diisi air secara bertahap hingga mencapai ketinggian ideal. Kualitas air seperti suhu, pH, dan kadar oksigen terlarut harus dijaga agar tetap optimal bagi pertumbuhan ikan nila.

3. Penanganan dan Pencegahan Penyakit Ikan

Penyakit ikan menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya ikan nila. Oleh karena itu, pencegahan harus lebih diutamakan daripada pengobatan.

Menjaga kebersihan kolam, kualitas air, serta kepadatan ikan sangat penting untuk mencegah timbulnya penyakit. Jika ikan menunjukkan gejala sakit, seperti nafsu makan menurun atau gerakan tidak normal, segera lakukan penanganan dengan memisahkan ikan yang terinfeksi dan memberikan perlakuan sesuai jenis penyakitnya.

4. Pemeliharaan Ikan Nila dan Tantangan Tingginya Harga Pakan

Pakan merupakan faktor utama dalam menentukan pertumbuhan ikan nila dan menjadi komponen biaya terbesar dalam budidaya. Oleh karena itu, pemberian pakan harus dilakukan secara tepat, baik dari segi jenis, jumlah, maupun waktu pemberian.

Ikan nila umumnya diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein sekitar 20–30%. Jumlah pakan yang diberikan berkisar 3% dari bobot tubuh ikan per hari dan dibagi dalam dua waktu, yaitu pagi dan sore. Pemberian pakan yang berlebihan harus dihindari karena dapat mencemari air kolam.

"Jadi kalau mau milih pakan ikan pabrikan standarnya dilihat dari kualitas proteinnya, yang bagus 31-33 persen karena ngaruh ke berat badan ikan. Yang bagus pemberian pakannya skala 1:1. Jadi misal 1kg pakan menghasilkan kenaikan 1kg bobot ikan," tutur Wiwid.

Ya, satu parameter penting dalam budidaya ikan nila adalah Feed Conversion Ratio (FCR), yakni perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan peningkatan berat badan ikan. Nilai FCR yang rendah menunjukkan bahwa pakan dimanfaatkan secara lebih efisien oleh ikan.

Untuk menjaga efisiensi dan menekan biaya produksi biaya pakan pabrikan yang harganya lumayan tinggi, pembudidaya bisa menggunakan pakan tambahan alternatif. Seperti halnya Wiwid dan suaminya, yang menggunakan azolla untuk alternatif pakan nila peliharaannya.

“Karena pakan ikannya mahal, akhirnya kami cari alternatif tambahan pakan. Kami menggunakan azolla, tanaman spora liar. Azolla biasanya digunakan sebagai alternatif pakan ternak atau ikan,” Wiwid menambahkan.

5. Strategi Panen Menentukan Aliran Cuan

Waktu panen menjadi faktor penting dalam menjaga arus keuntungan. Peternak sukses tidak selalu menunggu ikan mencapai ukuran maksimal, melainkan menyesuaikan panen dengan permintaan pasar. Panen bertahap sering dilakukan untuk menjaga suplai ikan tetap tersedia dan mengoptimalkan harga jual.

“Kalau ikan nila itu biasa dipanen sekitar 3 bulan sekali tergantung kebutuhannya mau ukuran berapa,” tambah Wiwid.

Strategi ini juga membantu menjaga siklus produksi agar tetap berjalan tanpa jeda panjang. Dengan konsistensi pasokan dan kualitas ikan yang terjaga, kepercayaan pembeli meningkat dan pesanan pun datang secara berkelanjutan.

Cocok untuk Usaha Rumahan hingga Skala Besar

Usaha Skala Kecil (Rumahan)

Budidaya ikan nila pada skala kecil umumnya dilakukan di lingkungan rumah dengan memanfaatkan kolam atau media sederhana, seperti ember besar. Jumlah ikan yang dipelihara masih terbatas, sehingga cocok bagi pemula yang ingin memulai berbisnis dengan modal minimalis.

Usaha Skala Menengah

Pada tingkat usaha menengah, pembudidaya ikan nila biasanya menggunakan beberapa unit kolam, baik kolam tanah maupun kolam beton. Sistem pemeliharaan yang diterapkan sudah bersifat semi-intensif, dengan jumlah ikan yang lebih banyak serta manajemen budidaya yang lebih tertata dan terencana.

Usaha Skala Besar

Budidaya ikan nila skala besar dijalankan secara intensif dengan dukungan teknologi modern, seperti sistem bioflok atau penggunaan tambak berukuran luas. Fokus utama pada skala ini adalah meningkatkan volume produksi secara maksimal dengan tetap menjaga efisiensi operasional dan kualitas hasil panen.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Budidaya Ikan Nila

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan ikan nila sampai siap panen?

Ikan nila umumnya siap dipanen antara 3–6 bulan, tergantung ukuran yang diinginkan dan manajemen budidaya yang diterapkan.

2. Apa pakan terbaik untuk budidaya ikan nila?

Pakan berkualitas tinggi dengan kandungan protein seimbang mendukung pertumbuhan optimal dan menurunkan biaya pakan keseluruhan.

3. Berapa kepadatan ikan yang dianjurkan di kolam tanah?

Rekomendasi kepadatan tebar untuk kolam tanah sekitar 3–5 ekor/m² agar ikan tidak stress dan tumbuh maksimal.

4. Bagaimana pengaruh kualitas air terhadap hasil budidaya?

Kualitas air sangat penting; parameter seperti DO, pH, dan kadar amonia yang stabil membantu meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan mortalitas.

5. Apakah pemasaran langsung ke konsumen lebih menguntungkan?

Ya, menjual langsung seperti ke pasar modern atau melalui platform digital sering memberikan margin keuntungan lebih tinggi dibanding penjualan ke pengepul.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |