Liputan6.com, Jakarta - Istilah doksli belakangan semakin sering muncul di media sosial, kolom komentar, hingga percakapan sehari-hari di aplikasi pesan instan. Banyak orang menggunakan kata ini untuk meminta bukti, klarifikasi, atau keaslian sebuah informasi yang beredar, terutama ketika muncul kabar viral yang diragukan kebenarannya. Meski terdengar santai dan tidak baku, kata doksli memiliki makna yang cukup penting dalam konteks komunikasi digital saat ini.
Fenomena penggunaan kata doksli tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hoaks dan informasi palsu. Di tengah derasnya arus berita dan konten viral, warganet mulai menuntut bukti yang lebih jelas sebelum mempercayai suatu klaim. Dari sinilah istilah doksli menjadi populer sebagai bentuk permintaan akan data atau bukti yang valid.
Menariknya, doksli bukan istilah resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi justru berkembang luas melalui budaya internet dan bahasa gaul anak muda. Walau tidak baku, penggunaannya sangat kontekstual dan mudah dipahami oleh banyak orang, sehingga cepat diterima dan digunakan secara luas. Hal ini menunjukkan bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi masyarakat.
Berikut arti doksli, asal usul katanya, makna kontekstual dalam berbagai situasi hingga contoh penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari yang dirangkum oleh Liputan6 dari berbagai sumber pada Selasa (20/1).
Arti Doksli dalam Bahasa Gaul
Secara umum, doksli adalah singkatan dari “dokumen asli”, yang merujuk pada bukti atau data yang benar-benar otentik dan tidak dimanipulasi. Dalam bahasa gaul, doksli digunakan untuk menegaskan bahwa sebuah informasi harus disertai bukti nyata agar bisa dipercaya. Bukti tersebut tidak selalu berupa dokumen resmi, tetapi bisa juga berbentuk foto, video, atau rekaman percakapan.
Dalam praktiknya, ketika seseorang meminta doksli, artinya ia tidak ingin menerima klaim sepihak atau cerita tanpa dasar. Permintaan doksli biasanya muncul saat terjadi perdebatan, klarifikasi isu, atau ketika sebuah unggahan dianggap meragukan. Dengan kata lain, doksli berfungsi sebagai alat verifikasi informal di ruang digital.
Makna doksli juga sering dikaitkan dengan transparansi dan kejujuran. Seseorang yang mampu menunjukkan doksli dianggap lebih kredibel dibandingkan mereka yang hanya menyampaikan opini tanpa bukti pendukung. Oleh karena itu, istilah ini memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan di dunia maya.
Asal Usul Kata Doksli
Kata doksli berasal dari pelesetan istilah “dokumen asli” yang dipendekkan dan disesuaikan dengan gaya bahasa anak muda. Proses pemendekan ini umum terjadi dalam bahasa gaul Indonesia, di mana kata panjang disingkat agar terdengar lebih santai dan cepat diucapkan. Dari “dokumen asli”, kemudian lahirlah istilah doksli.
Popularitas doksli meningkat seiring maraknya kasus hoaks, editan, dan manipulasi data di media sosial. Warganet membutuhkan istilah yang ringkas untuk meminta bukti keaslian, sehingga doksli menjadi pilihan yang praktis dan mudah diingat. Dalam waktu singkat, kata ini menyebar luas melalui Twitter, Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp.
Meskipun berasal dari bahasa informal, doksli kini dipahami lintas generasi. Tidak hanya anak muda, orang dewasa pun mulai menggunakan istilah ini dalam diskusi daring.
Makna Doksli dalam Konteks Media Sosial
Di media sosial, doksli sering digunakan sebagai bentuk skeptisisme terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Ketika sebuah unggahan viral tanpa disertai data pendukung, komentar seperti “doksli mana?” atau “ada doksli-nya?” kerap muncul. Ini menandakan meningkatnya kesadaran kritis pengguna internet.
Dalam konteks ini, doksli tidak selalu berarti dokumen resmi seperti KTP atau surat hukum. Bisa saja berupa tangkapan layar utuh, video tanpa edit, atau foto dengan metadata yang jelas. Yang terpenting adalah bukti tersebut bisa diverifikasi dan tidak menyesatkan.
Penggunaan doksli juga menjadi alat kontrol sosial agar orang lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Dengan adanya tuntutan doksli, penyebar hoaks akan lebih mudah terdeteksi karena tidak mampu menunjukkan bukti yang valid.
Contoh Penggunaan Kata Doksli dalam Kalimat
Penggunaan kata doksli sangat fleksibel dan tergantung konteks percakapan. Dalam diskusi santai, kata ini bisa digunakan tanpa kesan formal, tetapi tetap memiliki makna yang tegas. Contohnya, ketika seseorang mengklaim sebuah kejadian, lawan bicara bisa meminta doksli sebagai bentuk klarifikasi. Kalimat seperti, “Kalau benar kejadiannya begitu, coba tunjukin doksli-nya,” atau “Jangan cuma cerita, doksli-nya mana?” menunjukkan bahwa kata ini dipakai untuk menuntut bukti nyata.
Dalam konteks berita atau klarifikasi publik, doksli juga dapat merujuk pada data pendukung yang lebih serius. Meski bahasanya santai, makna yang dibawa tetap kuat, yakni keaslian dan validitas informasi. Penggunaannya pun beragam, mulai dari percakapan sehari-hari hingga diskusi yang lebih formal
Berikut contoh penggunaan kata “doksli” dalam berbagai konteks percakapan:
- Percakapan santai antar teman: “Katanya kamu ketemu artis itu kemarin? Doksli-nya mana, foto kek atau chat?”
- Diskusi di media sosial: “Informasinya menarik, tapi biar nggak hoaks, boleh dong share doksli yang valid.”
- Debat atau klarifikasi ringan: “Klaim kamu cukup serius, jadi sebaiknya disertai doksli biar jelas sumbernya.”
- Konteks berita atau pernyataan publik: “Pihak terkait menyebut telah menyiapkan doksli berupa data dan arsip untuk memperkuat pernyataan mereka.”
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa meski terdengar santai, kata doksli tetap membawa makna penting terkait bukti, keaslian, dan validitas informasi.
Perbedaan Doksli dan Hoaks
Doksli dan hoaks memiliki makna yang saling bertolak belakang. Doksli merujuk pada bukti asli dan valid, sedangkan hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang tidak didukung data yang benar. Permintaan doksli sering kali muncul sebagai respons terhadap dugaan hoaks.
Hoaks biasanya beredar tanpa sumber jelas, mengandalkan narasi emosional, dan sulit diverifikasi. Sebaliknya, doksli menuntut kejelasan sumber, bukti visual, atau data yang bisa dicek kebenarannya. Dengan adanya doksli, sebuah informasi memiliki peluang lebih besar untuk dipercaya.
Perbedaan ini membuat doksli menjadi istilah penting dalam literasi digital. Dengan membiasakan diri meminta doksli, masyarakat dapat lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh informasi palsu.
Pentingnya Doksli di Era Digital
Di era digital yang serba cepat, informasi bisa menyebar luas hanya dalam hitungan detik. Tanpa kebiasaan memeriksa doksli, masyarakat rentan terjebak hoaks dan manipulasi data. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan konsep doksli menjadi semakin relevan.
Doksli membantu membangun budaya diskusi yang sehat, di mana setiap klaim perlu didukung bukti. Hal ini tidak hanya berlaku di media sosial, tetapi juga dalam diskusi publik, komunitas, hingga dunia jurnalistik. Transparansi menjadi nilai utama yang dijaga melalui keberadaan doksli.
Dengan menjadikan doksli sebagai standar informal dalam berkomunikasi, kualitas informasi yang beredar dapat meningkat. Masyarakat pun menjadi lebih cerdas dalam memilah mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang perlu diwaspadai.
Pertanyaan Umum yang Sering Diajukan
1. Doksli artinya apa dalam bahasa gaul?
Doksli berarti dokumen atau bukti asli yang menunjukkan keaslian suatu informasi.
2. Apakah doksli harus berupa dokumen resmi?
Tidak selalu, doksli bisa berupa foto, video, screenshot utuh, atau bukti lain yang valid.
3. Kenapa orang sering minta doksli di media sosial?
Karena banyak informasi palsu, sehingga orang ingin memastikan kebenaran sebuah klaim.
4. Apa hubungan doksli dengan hoaks?
Doksli digunakan untuk membedakan informasi valid dari hoaks yang tidak memiliki bukti.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)