Liputan6.com, Jakarta - Menerapkan cara menanam sawi di tanah berpasir dan kerikil merupakan tantangan tersendiri bagi pecinta sayuran, karena karakteristik lahan yang marginal membutuhkan perlakuan ekstra agar nutrisi tidak terbuang sia-sia. Tanah yang didominasi pasir cenderung memiliki daya ikat air yang sangat rendah, sedangkan keberadaan kerikil seringkali menghambat pertumbuhan akar serabut yang halus.
Danang Saputro, Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja Program Ketahanan Pangan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Klaten, memberikan testimoni nyata mengenai pemanfaatan lahan sulit ini.
“Tanah di Lapas ini dulunya tidak produktif karena digunakan sebagai timbunan sisa material bangunan. Untuk memperbaikinya, tanah diayak untuk memisahkan batu dan tanah subur, kemudian diberi pupuk lengkap” ungkap Danang kepada Liputan6.com.
Meskipun kualitas tanah di awal tergolong buruk, proses transformasi lahan menjadi sangat mungkin dilakukan melalui rekayasa media tanam yang tepat. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan petani dalam menciptakan ekosistem tanah yang mampu menahan kelembapan lebih lama di lapisan atas.
Sawi, sebagai tanaman dengan siklus hidup pendek, sebenarnya sangat responsif terhadap perbaikan hara yang dilakukan secara intensif meski di atas tanah berpasir sekalipun. Dengan kombinasi pupuk organik dan manajemen air yang disiplin, Anda bisa membuktikan bahwa sawi yang renyah dan hijau tetap bisa tumbuh subur di lahan berkerikil.
Mengubah "Tanah Mati" Menjadi Produktif
Tahap awal dalam menanam sawi di lahan berpasir adalah melakukan perbaikan fisik tanah. Karena tanah pasir sangat porus, kita harus memberikan "perekat" organik agar tanah mampu menyimpan cadangan makanan bagi tanaman. Danang Saputro menjelaskan bahwa langkah fisik pertama adalah pembersihan material pengganggu.
Pria yang mengurusi ternak dan kebun sayur di Lapas Klaten tersebut menjelaskan bahwa proses perbaikan lahan dilakukan dengan cara mengayak tanah guna memisahkan batu dari tanah yang subur, yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian pupuk kompos, pupuk buatan, serta pupuk kimia seperti urea pada tahap awal penanaman. Sesuai dengan cara menanam sawi di tanah berpasir dan kerikil, pengolahan fisik ini sangat krusial sebelum masuk ke tahap pemupukan rutin.
Langkah-langkah pengolahan lahan yang bisa Anda terapkan antara lain:
- Pengayakan Tanah: Singkirkan kerikil tajam atau material sisa bangunan yang bisa merusak jaringan akar.
- Pemberian Kompos: Gunakan campuran kotoran kambing dan sekam yang sudah difermentasi untuk menambah volume hara.
- Aplikasi Urea Terbatas: Berikan sedikit urea di fase awal untuk merangsang vegetatif daun agar cepat berkembang.
Netralisasi pH dengan Kapur Dolomit
Tanah yang lama terbengkalai atau didominasi pasir seringkali memiliki tingkat keasaman yang ekstrem, baik terlalu asam maupun terlalu basa karena pengaruh material semen. Sementara itu Abid, Staff Bimbingan Kerja Lapas Klaten, menekankan pentingnya masa tunggu dan stabilisasi tanah.
“Di awal ditaburi pakai kapur dolomit itu. Ada dolomit juga biar pH-nya terlalu netral. Setelah didiamkan dulu sampai sekitar setengah bulan itu baru ditanami,” ungkapnya saat ditemui Liputan6.com.
Pemberian dolomit berfungsi untuk:
- Menyeimbangkan pH tanah agar penyerapan unsur N, P, dan K menjadi maksimal.
- Menyediakan kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) yang dibutuhkan sawi untuk memperkuat struktur dinding sel daun.
- Mencegah tanaman kerdil akibat keracunan logam berat yang sering muncul di tanah berpasir bekas urukan.
Memilih Varietas Sawi yang Tahan Banting
Tidak semua jenis sawi cocok dengan kondisi tanah yang cepat panas seperti tanah berpasir. Pemilihan varietas yang memiliki daya hidup kuat adalah kunci untuk meminimalisir risiko kegagalan. Danang mengungkapkan alasan mengapa sawi putih menjadi pilihan utama di lahan marginal:
“Sawi yang ditanam adalah sawi putih. Sawi ini dipilih karena daya hidupnya lebih kuat dibandingkan bayam dan perawatannya tidak terlalu rumit," jelas Danang.
Keunggulan memilih varietas yang tepat:
- Daya Adaptasi Tinggi: Sawi putih lebih toleran terhadap fluktuasi nutrisi di tanah pasir.
- Perawatan Efisien: Tidak membutuhkan pestisida berlebihan jika struktur tanah sudah diperbaiki.
- Ketahanan Akar: Akar sawi putih cenderung lebih kuat menembus sela-sela kecil di tanah yang masih mengandung sedikit kerikil halus.
Ketelatenan Merawat Tanaman Sawi
1. Manajemen Pengairan di Media Berpasir
Tantangan terbesar menanam sawi di pasir adalah kecepatan penguapan. Sawi memiliki karakteristik perakaran yang dangkal sehingga sangat sensitif terhadap kekeringan. Abid menjelaskan bahwa karena sawi memiliki karakteristik akar pendek yang sensitif terhadap kekeringan, panas matahari dapat menjadi musuh utama bagi tanaman tersebut jika pengairan tidak dikelola secara ketat.
Strategi penyiraman yang disarankan:
- Frekuensi Sering: Lakukan penyiraman dua kali sehari, pada pagi sebelum jam 9 dan sore setelah jam 4.
- Pemberian Mulsa: Tutupi permukaan tanah dengan jerami atau sekam untuk menahan kelembapan agar air tidak langsung menguap.
- Penyiraman Daun: Saat terik, semprotkan kabut air halus untuk menurunkan suhu permukaan daun yang bisa menyebabkan layu permanen.
2. Nutrisi Berkelanjutan dengan Pupuk NPK Cair
Karena tanah pasir sangat mudah melepaskan hara (leaching), pemupukan lewat tanah seringkali kurang efektif. Abid mengungkap pengalamannya, bahwa praktik di lapangan untuk menyiasati kondisi tanah marginal adalah dengan meminimalisir penggunaan bahan kimia dan lebih mengedepankan unsur organik.
Ia menambahkan bahwa metode penyemprotan pupuk NPK yang telah dicairkan satu minggu sekali menjadi solusi efektif agar nutrisi dapat langsung terserap melalui stomata daun. Selain itu Abid juga memformulasikan pupuk Gandasil D untuk mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman, membuat daun lebih hijau, lebar, sehat, dan merangsang tunas baru
Beberapa keunggulan pemupukan cair di tanah berpasir:
- Penyerapan Cepat: Tanaman langsung mendapatkan asupan tanpa harus menunggu proses dekomposisi tanah yang lambat di pasir.
- Efisiensi Biaya: Pupuk NPK yang dicairkan menjangkau lebih banyak tanaman dibandingkan pupuk butiran.
- Menjaga Tekstur Tanah: Mengurangi akumulasi residu kimia padat yang bisa mengeraskan tanah dalam jangka panjang.
- Meningkatkan kesuburan Daun: Pupuk semprot Gandasil D untuk merangsang tunas baru.
3. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida Berlebihan
Menanam di lahan terbuka seringkali mengundang hama seperti tikus dan ulat daun. Di Lapas Klaten, mereka memilih cara yang lebih ramah lingkungan namun intensif dalam pengawasan.
“Kendala dalam menanam sawi adalah hama tikus yang memakan bibit dan ulat yang membuat daun berlubang. Penanganan ulat dilakukan secara manual dengan mencari satu per satu," papar Abid.
Tips mengelola hama secara mandiri:
- Sanitasi Lahan: Pastikan tidak ada tumpukan batu atau kayu di sekitar lahan yang bisa menjadi sarang tikus.
- Pengecekan Manual: Luangkan waktu di pagi hari untuk memeriksa bagian bawah daun dan membuang ulat secara langsung.
- Pestisida Nabati: Jika diperlukan, gunakan rendaman air bawang putih untuk mengusir hama tanpa merusak kualitas sayuran.
Perencanaan Panen Berkelanjutan
Keberhasilan menanam sawi bukan hanya soal hasil sekali panen, melainkan kontinuitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Danang Saputro menjelaskan bagaimana pengaturan pola tanam diatur secara sistematis.
“Konsep penanamannya berkelanjutan, dengan penanaman yang sudah direncanakan agar dapur tidak kekurangan pasokan. Sawi dipanen satu petak sekaligus setiap 10 hari.”
Manfaat pola tanam berkelanjutan:
- Stok Selalu Tersedia: Anda tidak akan kekurangan pasokan sayur hijau.
- Regenerasi Tanah: Penanaman bergilir memberikan waktu bagi petak tanah lain untuk "beristirahat" dan diperkaya kembali dengan kompos.
- Manajemen Risiko: Jika satu petak gagal karena hama, petak lain masih memiliki peluang untuk dipanen.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apakah sawi bisa tumbuh di tanah yang penuh kerikil?
Bisa, asalkan Anda membuang kerikil besar dan menambahkan bahan organik seperti kompos untuk mengisi ruang antar kerikil agar akar bisa menyerap nutrisi.
2. Berapa perbandingan pupuk kandang untuk tanah berpasir?
Idealnya gunakan perbandingan 1:1 atau minimal 1 bagian pupuk kandang untuk 2 bagian tanah berpasir guna meningkatkan daya ikat air.
3. Jenis sawi apa yang paling tahan di tanah berpasir?
Sawi hijau (caisim) dan sawi langit cenderung lebih tangguh terhadap fluktuasi suhu tanah dibandingkan sawi putih yang lebih manja terhadap kelembapan.
4. Mengapa sawi saya di tanah pasir cepat layu saat siang hari?
Sifat pasir yang cepat panas dan tidak menyimpan air membuat tanaman stres. Gunakan mulsa jerami dan tingkatkan frekuensi penyiraman untuk mengatasinya.
5. Bisakah menggunakan pupuk cair saja di tanah berpasir?
Pupuk cair sangat disarankan sebagai tambahan, namun bahan organik padat tetap wajib ada untuk memperbaiki struktur fisik tanah dalam jangka panjang.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)