Liputan6.com, Jakarta - Kotoran ayam adalah salah satu sumber nutrisi organik terbaik untuk tanaman. Kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalium, limbah kandang ini sejatinya adalah "emas hitam" bagi kebun rumahan Anda. Namun, banyak orang mengurungkan niat memanfaatkannya karena beranggapan proses pembuatan pupuk kandang kotoran ayam terlalu rumit, membutuhkan perlakuan khusus, dan menyita banyak waktu.
Taufik Azhari, pendiri Piramida Projects, membuktikan hal sebaliknya. Melalui pendekatan pertanian terintegrasi dengan prinsip zero waste, ia berhasil mengolah kotoran dari 5 ekor ayam petelur menjadi pupuk kompos berkualitas hanya dengan metode sederhana, yakni cukup didiamkan dan biarkan alam bekerja. Dalam 3-4 bulan, kotoran yang bercampur alas kandang menghasilkan sekitar 2 karung pupuk siap pakai tanpa proses pengadukan atau penambahan bahan kimia.
Artikel ini akan membongkar cara praktis membuat pupuk kandang kotoran ayam berdasarkan pengalaman langsung Piramida Project. Cocok untuk pemula yang ingin memulai pertanian berkelanjutan skala rumahan dengan cara paling minimal tenaga dan biaya.
1. Pilih & Siapkan Sistem Kandang yang Tepat
Langkah pertama dalam menghasilkan pupuk kandang kotoran ayam berkualitas adalah memilih sistem kandang yang mendukung proses pengomposan alami. Jenis kandang akan sangat menentukan kemudahan pengumpulan dan kualitas kompos yang dihasilkan.
Sistem Umbaran dengan Alas adalah pilihan ideal seperti yang diterapkan di Piramida Project. Dalam sistem ini, ayam dipelihara dengan area terbuka yang cukup luas untuk bergerak bebas. Kandang dialasi dengan bahan penyerap seperti sekam padi, serbuk gergaji, atau serutan kayu.
"Umbaran itu seperti yang kami lakukan. Jadi ayam bisa main ke mana-mana. Dia bisa ngorek-ngorek, bisa mandi," ungkap Taufik Azhari kepada reporter Liputan6.com pada Selasa, 13 Januari 2026.
Dalam sistem ini, kotoran langsung bercampur dengan alas dan mulai terurai secara alami di tempat.
Sistem Battery Cage (Charger) dapat menjadi alternatif bagi yang memiliki lahan sangat terbatas. Dalam sistem ini, ayam ditempatkan dalam kandang individu bertingkat. Meski lebih praktis untuk lahan sempit, Anda perlu menyiapkan wadah penampung di bawah kandang untuk mengumpulkan kotoran yang jatuh. Taburi secara berkala dengan bahan penyerap seperti sekam atau serbuk kayu untuk memulai proses pengeringan dan pengomposan awal. Namun, Taufik menyarankan sistem umbaran karena lebih memperhatikan kesejahteraan ayam dan menghasilkan proses pengomposan yang lebih alami.
2. Gunakan Alas Kandang sebagai Media Pengomposan Awal
Alas kandang bukan sekadar pelapis lantai, tetapi berfungsi sebagai "pabrik pengomposan" pasif pertama yang sangat krusial. Pemilihan bahan alas yang tepat akan menentukan kecepatan dan kualitas proses penguraian kotoran ayam.
Bahan alas yang disarankan meliputi sekam padi, serbuk gergaji dari kayu keras (hindari kayu olahan dengan perekat kimia), serutan kayu alami, atau jerami kering. Bahan-bahan ini dipilih karena kemampuannya menyerap kelembaban dengan baik dan kaya akan unsur karbon. Sebagai panduan, gunakan alas setebal 5-10 cm untuk sistem umbaran, atau taburi 2-3 cm pada penampung kotoran sistem battery cage.
Bahan alas bekerja dengan cara menyerap kelembaban berlebih dari kotoran yang cenderung basah, mengurangi bau amonia yang menyengat, serta menyediakan karbon yang diperlukan untuk keseimbangan kompos. Kotoran ayam kaya nitrogen, sedangkan alas kandang menyumbang karbon, menciptakan rasio C:N yang ideal untuk pengomposan. Seperti yang dijelaskan Taufik, proses ini memungkinkan kotoran ayam diolah secara alami oleh ayamnya sendiri, dimulai dari tahap alas kandang ini. Mikroorganisme pengurai sudah mulai aktif bekerja sejak kotoran pertama kali bercampur dengan alas.
3. Biarkan Proses Alami Bekerja
Inilah inti dari metode tanpa ribet yang membedakan pendekatan Piramida Projects dengan metode pengomposan konvensional. Prinsip dasarnya sederhana, yakni cukup percayakan pada kekuatan alam dan mikroorganisme pengurai untuk bekerja secara bertahap.
Aktivitas yang Anda perlukan sangat minimal. Tidak perlu membolak-balik tumpukan kompos setiap hari atau menambahkan aktivator khusus. Cukup lakukan pengecekan berkala, pastikan alas kandang tidak terlalu basah atau becek. Jika kelembaban berlebihan yang ditandai dengan terlihat genangan atau bau amonia sangat menyengat, tambahkan lapisan tipis bahan penyerap kering seperti sekam atau serbuk kayu. Biarkan mikroba alami, cacing tanah dalam sistem umbaran, jamur pengurai, dan enzim alami melakukan tugasnya mengurai campuran kotoran dan alas menjadi humus yang kaya nutrisi.
Waktu tunggu adalah kunci kesuksesan. Berdasarkan praktik langsung Piramida Projects, berikan waktu 3 hingga 4 bulan untuk proses pengomposan sempurna.
"Tiga sampai empat bulan kita sudah bisa mempersiapkan atau mengambil lah. Mengambil hasil pupuk kompos itu," jelas Taufik Azhari.
Selama periode ini, proses pengomposan berjalan dalam beberapa fase, yaitu fase termofilik (panas) yang membunuh patogen dan benih gulma, fase pendinginan, hingga fase pematangan yang menghasilkan kompos stabil dan aman untuk tanaman. Kesabaran di tahap ini akan menghasilkan pupuk kandang kotoran ayam berkualitas premium.
4. Panen Pupuk yang Sudah Matang
Setelah masa tunggu 3-4 bulan, saatnya memanen hasil kerja alam. Namun, penting untuk memastikan pupuk kandang kotoran ayam Anda benar-benar sudah matang sebelum diaplikasikan ke tanaman.
Ciri-ciri pupuk kompos yang sudah matang dan siap pakai meliputi perubahan warna menjadi coklat gelap kehitaman, jauh berbeda dari warna asli kotoran ayam yang putih kekuningan. Teksturnya berubah menjadi remah dan gembur seperti tanah humus, mudah digenggam namun tidak lengket. Yang paling mudah dikenali adalah perubahan aroma yakni tidak lagi berbau amonia atau kotoran menyengat, melainkan beraroma tanah segar atau humus hutan. Suhu kompos juga sudah sama dengan suhu lingkungan sekitar, tidak terasa panas saat disentuh, menandakan aktivitas penguraian intensif telah selesai.
Cara memanen tergantung pada sistem kandang yang Anda gunakan. Untuk sistem umbaran dengan alas kandang, ambil lapisan bagian bawah yang sudah terlihat matang dengan ciri-ciri di atas, sementara lapisan atas yang masih baru bisa dibiarkan melanjutkan proses penguraian. Untuk sistem penampungan kotoran kandang baterai, Anda bisa mengambil seluruh isi penampung setelah masa tunggu 3-4 bulan tercapai. Dari 5 ekor ayam petelur, Piramida Projects menghasilkan sekitar 2 karung pupuk kompos dalam periode tersebut, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kebun rumahan berbulan-bulan.
5. Aplikasikan ke Tanaman & Tutup Siklus
Tahap terakhir adalah menggunakan hasil panen pupuk kandang kotoran ayam untuk menyuburkan kebun Anda, meniru siklus zero waste yang diterapkan Piramida Project. Pupuk organik berkualitas ini akan menjadi kunci produktivitas tanaman Anda.
Cara aplikasi pupuk kompos kotoran ayam dapat dilakukan dengan dua metode. Pertama, sebagai pupuk dasar dengan mencampurkan kompos ke media tanam sebelum penanaman dengan perbandingan 1:3 (1 bagian kompos, 3 bagian tanah) untuk tanaman sayuran, atau 1:4 untuk tanaman hias. Kedua, sebagai pupuk susulan atau mulsa dengan menaburkan kompos matang setebal 2-3 cm di sekeliling batang tanaman yang sudah tumbuh, lalu siram dengan air agar nutrisi meresap ke zona perakaran.
Menciptakan siklus berkelanjutan adalah filosofi inti dari pendekatan ini. Seperti yang dipraktikkan Piramida Projects, pupuk dari kandang ayam menyuburkan kebun sayuran seperti kangkung, bayam Brazil, sawi, kemangi, tomat, cabai, hasil panen kebun menyediakan pangan sehat untuk keluarga, sisa-sisa tanaman yang tidak layak konsumsi seperti daun busuk, batang tua dapat kembali menjadi pakan tambahan ternak atau bahan organik untuk pengomposan berikutnya.
FAQ Seputar Pupuk Kandang Kotoran Ayam Sederhana
Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan benar-benar hanya dengan didiamkan?
A: Sesuai pengalaman langsung Piramida Projects, waktu ideal untuk menghasilkan pupuk kandang kotoran ayam matang hanya dengan metode didiamkan adalah 3 hingga 4 bulan. Durasi ini memungkinkan proses penguraian alami yang sempurna oleh mikroorganisme, membunuh bakteri patogen dan parasit berbahaya, menetralkan amonia berlebih, serta menghasilkan pupuk yang stabil dan aman untuk semua jenis tanaman. Anda tidak perlu melakukan apa-apa selain pengecekan kelembaban sesekali, benar-benar metode pasif yang hemat waktu dan tenaga.
Q: Apakah tidak menjadi sumber bau dan penyakit jika hanya didiamkan?
A: Tidak akan menimbulkan bau busuk atau menjadi sumber penyakit jika dilakukan dengan benar. Kunci utamanya terletak pada penggunaan alas kandang penyerap yang cukup (sekam, serbuk kayu, jerami). Alas kandang berfungsi menyerap kelembaban berlebih dan menciptakan lingkungan yang seimbang bagi mikroba pengurai aerobik (yang membutuhkan oksigen). Mikroba jenis ini tidak menghasilkan bau busuk seperti proses pembusukan anaerobik (tanpa oksigen). Proses pengomposan alami yang baik justru akan menghasilkan aroma tanah segar atau humus, bukan amonia menyengat. Selama alas kandang dijaga tidak terlalu basah dan ada sirkulasi udara yang cukup, masalah bau dan penyakit tidak akan terjadi.
Q: Bagaimana jika saya hanya punya sedikit ayam (3-5 ekor)? Apakah metode ini tetap efektif?
A: Sangat efektif, bahkan metode ini justru ideal untuk skala kecil. Piramida Projects sendiri memulai dengan 5 ekor ayam petelur dan berhasil memproduksi pupuk berkualitas. Untuk skala lebih kecil dengan 3 ekor ayam, volume pupuk yang dihasilkan akan menyesuaikan (sekitar 1-1,5 karung), tetapi proses pengomposan dan kualitas hasilnya tetap sama baiknya. Justru dengan jumlah ayam sedikit, pengelolaan kandang dan monitoring kelembaban alas menjadi lebih mudah. Metode ini sangat cocok untuk ketahanan pangan skala rumahan yang tidak membutuhkan pupuk dalam jumlah industri.
Q: Bolehkah langsung menggunakan kotoran ayam segar sebagai pupuk?
A: Sangat tidak disarankan dan berbahaya bagi tanaman. Kotoran ayam segar memiliki kandungan amonia dan nitrogen yang sangat tinggi dalam bentuk yang belum stabil. Jika langsung diaplikasikan ke tanaman, amonia ini dapat "membakar" akar dan daun, menyebabkan kerusakan serius bahkan kematian tanaman. Selain itu, kotoran segar berpotensi membawa bakteri patogen (seperti E. coli, Salmonella), parasit, dan benih gulma yang dapat menyebarkan penyakit atau mengganggu pertumbuhan tanaman. Proses "didiamkan" selama 3-4 bulan dalam metode ini bertujuan mengurai zat-zat berbahaya tersebut menjadi bentuk nutrisi yang stabil, aman, dan mudah diserap oleh akar tanaman. Kesabaran di tahap ini adalah investasi untuk kesehatan kebun Anda.
Q: Apa keuntungan metode "cukup didiamkan" ini dibanding membuat pupuk cair atau yang diolah aktif?
A: Keuntungan utama metode pasif ini adalah efisiensi maksimal dengan usaha minimal. Pertama, hemat tenaga dan waktu—Anda tidak perlu mengaduk kompos setiap minggu, tidak perlu memindahkan bahan ke wadah lain, tidak perlu mencampurkan berbagai bahan tambahan atau aktivator komersial. Kedua, hemat biaya—tidak ada pengeluaran untuk membeli starter bakteri, molase, EM4, atau peralatan khusus seperti komposter atau aerator. Ketiga, menghasilkan pupuk padat kaya humus yang sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah dalam jangka panjang, tidak hanya memberi nutrisi cepat seperti pupuk cair. Keempat, sesuai dengan prinsip pertanian alami dan berkelanjutan yang menghormati ritme alam.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)