Liputan6.com, Jakarta - Kue apem yaqowiyu merupakan salah satu kuliner tradisional yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi Saparan di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Tradisi saparan digelar setiap bulan Safar dalam penanggalan Islam dengan membagikan kue apem kepada setiap warga yang hadir. Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-16 yang diprakarsai oleh ulama Ki Ageng Gribig dan terus dilestarikan hingga kini.
Menurut sejarah, tradisi Yaqowiyu bermula ketika Ki Ageng Gribig pulang dari Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ki Ageng Gribig membawa kue apem sebagai oleh-oleh untuk dibagikan kepada saudara, tetangga, dan para muridnya. Namun karena jumlahnya tidak cukup, ia meminta keluarganya membuat kue apem sendiri untuk dibagikan.
Sebutan Yaqowiyu diambil dari penggalan doa ‘yaa yaqowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimin’. Penggalan doa tersebut memiliki makna ‘Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kami segenap kaum muslimin.’
Kue Apem jadi Ladang Penghasilan Warga Sekitar
Berangkat dari tradisi tersebut, siapa sangka justru kue apem menjadi ladang pekerjaan masyarakat sekitar. Jika Anda melewati sepanjang jalan Jatinom-Boyolali, pasti terlihat pemandangan berupa warung berderet yang menawarkan kue apem untuk dijual.
Ya, kue yang awalnya hanya muncul setahun sekali tersebut, kini bisa dinikmati kapan saja. Salah satu penjual kue apem Yaqowwiyu di Jalan Jatinom-Boyolali adalah Rukiyem (56).
Kepada tim redaksi Liputan6.com pada Jumat, 16 Januari 2026, Rukiyem, menuturkan alasan orang berjualan kue Apem Yaqowwiyu yang awalnya hanya untuk perayaan tradisi Saparan.
“Setahu saya, sepertinya dulu itu ada satu dua orang yang berjualan di pinggir jalan pas sebaran apem. Ternyata setelah perayaan tradisi selesai, banyak warga yang mencari kue apem, dagangannya laku, terus yang lain pada ikut-ikutan jualan,” cerita Rukiyem.
Sebagai salah satu orang yang terinspirasi untuk berjualan kue apem Yaqowwiyu, Rukiyem setiap hari dari jam 5 pagi, semangat menjajakan dagangannya. Tak ada ‘tanggal merah’ dalam kalender rutinitasnya. Bermodalkan meja kayu, kursi, kompor gas, cetakan apem, adonan, aneka toping, dan tentunya keuletan, Rukiyem kini eksis sebagai salah satu penjual kue apem terlaris di Jatinom.
“Saya jualan di sini terus, di jalan Jatinom. Mau bulan Safar atau pun nggak, saya jualan di sini terus setiap hari, dari jam 5 pagi nanti kalau jam 2 siang habis ya sudah pulang. Kalau di rumah masih ada stok ya kadang jual lagi sampai jam 5 sore,” Rukiyem menambahkan.
Rasa yang Berinovasi
Apem Jatinom adalah makanan yang terbuat dari tepung beras, tepung terigu, gula, dan santan. Dalam sehari warung Rukiyem menghabiskan kurang lebih 3 sampai 5 kilogram tepung. Di akhir pekan atau setiap ada event tertentu, jumlahnya bertambah bisa mencapai 7 kilogram.
Kue apem bisa dibeli dalam kondisi hangat dengan beberapa varian rasa mulai dari original, keju, meses, nangka, pandan, cokelat, dan lainnya. Kue apem ini dijual per biji Rp1.500.
Menariknya, kue apem dahulu dengan yang dijual keseharian, ternyata mengalami inovasi resep dan rasa agar lebih kekinian. Rukiyem yang terbiasa membuat adonan sendiri untuk kue dagangannya mengungkap fakta menarik tentang pengkinian rasa kue apem yang dijual harian dengan dulunya.
“Kan sebenarnya kue apem Jatinom itu dulunya ya kayak yang versi original sekarang (rasanya manis sederhana). Tapi kalau kue apem sekarang itu banyak varian rasanya seperti nangka, keju, meses, pandan, dan lainnya,” ujar Rukiyem.
Kue apem yang hadir dengan varian rasa, agaknya menjadi bagian dari kreativitas masyarakat untuk menciptakan jajanan kekinian, sementara khusus bagi penjual tentu saja agar dagangannya lebih menarik.
“Kue apem dulu bahannya lebih simpel yaitu campuran tepung beras dan terigu, gula, kelapa, serta pengembangnya pakai tapai singkong. Sementara kalau sekarang kan sudah modern, supaya laku dan cepat mengembang, ada inovasi resep. Kalau saya pakai tepung beras, gandum, gula pasir, kelapa parut, fermipan, margarin,” Rukiyem menambahkan.
Resep Kue Apem
Bahan-Bahan:
- 500 gram tepung beras150 gram tepung terigu
- 200 gram gula pasir
- 1 liter santan kental
- 1 sendok teh ragi instan
- 1 sendok teh garam
- 2 lembar daun pandan margarin (untuk olesan cetakan)
Cara Membuat:
1. Rebus santan bersama gula pasir, garam, dan daun pandan hingga gula larut. Angkat dan biarkan hangat.
2. Campurkan tepung beras dan tepung terigu dalam wadah besar.
3. Masukkan ragi, aduk hingga rata.
4. Tuangkan santan hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan licin dan tidak bergerindil.
5. Diamkan adonan selama 1–2 jam hingga mengembang dan muncul gelembung udara.
6. Panaskan cetakan apem dan olesi dengan sedikit minyak.
7. Tuang adonan ke dalam cetakan, tutup, dan masak hingga apem matang dan permukaannya berpori.
8. Angkat dan dinginkan. Kue apem Yaqowiyyu siap disajikan atau dibagikan.
Kue apem Yaqowwiyu memiliki tekstur lembut, gurih manis, serta aroma khas dari santan dan daun pandan. Bentuknya oval sederhana dengan warna cokelat keemasan hingga hijau yang menggugah selera.
Keuntungan yang Menjanjikan
Selain warga Kabupaten Klaten, pembeli apem Yaqowwiyu Jatinom berasal dari wisatawan berbagai daerah yang sengaja membeli produk tersebut untuk oleh-oleh. Pembeli kue apem yang dijajakan Rukiyem misalnya, tak sedikit yang berasal dari daerah jauh, bahkan ada yang awalnya sekadar penasaran untuk mencicip.
“Banyak orang piknik dari Umbul Janti atau darimana mampir ke sini. Kan banyak orang lewat jalan Jatinom-Boyolali kadang juga penasaran terus mereka tanya, mampir, dan membeli,” ujar Rukiyem dengan antusias.
Untuk keseharian, Rukiyem mengoperasikan warung kue apem Yaqowwiyu di Jalan Jatinom-Boyolali dengan meracik adonan sendiri. Namun jika event sebaran apem di bulan Safar, dia akan membuka dua stand, dibantu anaknya.
“Kalau saat saparan gitu biasanya dibantu anak saya. dia nanti jaga stand di sini, terus saya jualan di dekat taman [jatinom). jadi ada 2 gitu standnya,” tutur Rukiyem.
Menjajakan kue apem Yaqowwiyu bagi Rukiyem menjadi salah satu berkah tersendiri karena bisa mendatangkan keuntungan lumayan. Dengan modal minimalis, margin keuntungan yang didapat Rukiyem pun cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
“Kalau modal pertama kali yang lumayan karena harus membeli mika plastik (kemasan apem), toping-toping, daun pisang, dan segala macamnya termasuk kompor dan cetakan apem. Tapi kalau sudah punya semua, tinggal beli bahan adonan dengan perhitungan sekitar Rp83.000 sampai Rp85.000 untuk 3 kilogram adonan apem. 3kg adonan itu bisa jadi 15 sampai 16 mika plastik,” Rukiyem menceritakan.
Sekadar informasi, 1 wadah mika plastik berisi 10 kue apem varian rasa, dihargai Rp15.000. Jika ludes terjual setiap harinya, bisa dihitung jumlah pendapatan dan keuntungan Rukiyem dari kegigihannya menjual kue apem. Jumlah yang lumayan untuk menambah keran pemasukan bagi ibu rumah tangga seperti Rukiyem.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Resep Apem
1. Apa itu kue apem Yaqowwiyu Jatinom?
Kue apem Yaqowwiyu Jatinom adalah kue tradisional khas Jatinom, Klaten, yang dibuat dan dibagikan dalam tradisi tahunan Yaqowwiyu. Kue ini melambangkan sedekah, doa, dan rasa syukur, serta menjadi bagian penting dari warisan budaya Islam Jawa.
2. Mengapa kue apem Yaqowwiyu dibagikan secara gratis saat tradisi berlangsung?
Pembagian kue apem secara gratis merupakan simbol sedekah dan ajaran untuk berbagi rezeki. Tradisi ini berasal dari dakwah Ki Ageng Gribig, yang mengajarkan nilai keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian sosial melalui pembagian makanan kepada masyarakat.
3. Apa bahan utama dan ciri khas resep kue apem Yaqowwiyu?
Bahan utama kue apem Yaqowwiyu biasanya terdiri dari tepung beras, santan, gula, dan tape atau ragi alami. Ciri khasnya adalah tekstur yang lembut, rasa manis ringan, serta aroma khas fermentasi yang membedakannya dari apem modern.
4. Apakah kue apem Yaqowwiyu bisa dijadikan ide jualan?
Ya, kue apem Yaqowwiyu sangat potensial dijadikan ide jualan. Dengan kemasan menarik dan cerita tradisi di baliknya, kue ini bisa dipasarkan sebagai jajanan tradisional premium, oleh-oleh khas daerah, atau produk musiman saat acara budaya dan keagamaan.
5. Bagaimana cara mengembangkan kue apem Yaqowwiyu agar diminati pasar modern?
Pengembangan bisa dilakukan dengan variasi rasa, ukuran mini, kemasan higienis, serta pemasaran digital. Tetap mempertahankan resep dasar dan nilai tradisinya akan menjadi nilai jual utama, sementara inovasi membantu menjangkau pasar yang lebih luas.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)