Liputan6.com, Jakarta - Budidaya alpukat kini semakin diminati, terutama bagi masyarakat perkotaan yang ingin memanfaatkan lahan terbatas. Dengan memilih jenis alpukat yang tepat, Anda bisa menikmati panen buah berkualitas dalam waktu relatif singkat. Alpukat tidak hanya lezat, tetapi juga kaya nutrisi, menjadikannya pilihan ideal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga langsung dari pekarangan rumah.
Konsep urban farming atau pertanian perkotaan menjadi solusi cerdas untuk mengoptimalkan ruang terbuka menjadi lahan hijau produktif. Berbagai varietas alpukat unggul telah terbukti adaptif dan mampu berbuah cepat, bahkan saat ditanam dalam pot atau lahan terbatas.
Pemilihan bibit yang berkualitas, seperti bibit hasil okulasi atau sambung pucuk, menjadi kunci utama untuk mempercepat masa berbuah dan memastikan kualitas buah yang seragam. Selain itu, perawatan yang tepat juga sangat berpengaruh pada produktivitas tanaman alpukat Anda. Melansir dari berbagai sumber, Kamis (22/1), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Alpukat Miki
Alpukat Miki merupakan salah satu varietas unggul yang terkenal dengan sifat genjah atau mudah berbuah. Tanaman ini sangat direkomendasikan untuk ditanam di pekarangan rumah atau sebagai tanaman buah dalam pot (tabulampot). Buah alpukat Miki memiliki berat rata-rata sekitar 400-600 gram per buah dengan daging tebal berwarna kuning, serta rasa manis, pulen, dan bebas pahit.
Masa berbuah Alpukat Miki tergolong cepat, yaitu pada rentang usia 1-2 tahun setelah tanam, bahkan beberapa sumber menyebutkan dapat berbuah di usia 2,5 tahun. Bibit hasil okulasi atau sambung pucuk sangat dianjurkan untuk mempercepat proses pembuahan ini. Alpukat Miki juga memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis Indonesia.
Varietas ini tumbuh optimal di dataran rendah dengan ketinggian 10 mdpl hingga 1.000 mdpl, suhu 20-30 derajat Celcius, dan curah hujan 5-6 bulan basah. Kualitas buah akan lebih optimal bila ditanam di dataran rendah pada elevasi kisaran 5 mdpl – 100 mdpl. Alpukat Miki dikenal tidak disukai hama ulat, menjadikannya pilihan menarik untuk budidaya skala komersial.
2. Alpukat Aligator
Alpukat Aligator dikenal dengan ukurannya yang jumbo dan bentuknya memanjang menyerupai buaya, menjadikannya sangat populer di Indonesia. Ciri khas buah ini adalah ukurannya yang besar, bisa mencapai 1–2 kg per buah, dengan bentuk memanjang dan kulit hijau mengilap. Daging buahnya tebal, memiliki rasa gurih manis khas alpukat mentega, dan biji relatif kecil.
Varietas ini memiliki sifat genjah, mampu berbuah pada usia 2-3 tahun setelah tanam. Bahkan, ada yang sudah mulai berbunga saat berumur 1 tahun, tergantung perlakuan dan nutrisi tanaman. Bibit hasil okulasi atau sambung pucuk sangat direkomendasikan untuk mempercepat pembuahan.
Alpukat Aligator cocok untuk ditanam di pekarangan rumah atau lahan terbatas, termasuk dalam planterbag atau pot. Tanaman ini tumbuh baik di ketinggian 300 hingga 2.000 mdpl, dengan ketinggian ideal di atas 1.000 mdpl. Alpukat Aligator toleran terhadap iklim kering dan membutuhkan sinar matahari sekitar 40 sampai 80 persen sepanjang hari.
3. Alpukat Pluwang
Alpukat Pluwang, yang juga dikenal sebagai alpukat jumbo hawaii atau alpukat pangeran, saat ini populer karena ukurannya yang besar dan sifat genjahnya. Buah alpukat Pluwang dapat mencapai berat hingga 2 kilogram per buah, menjadikannya tiga kali lebih besar dari alpukat biasa. Daging buahnya padat, lembut, dan halus, meskipun rasanya terbilang standar namun tampilannya yang jumbo membuatnya istimewa.
Varietas ini dikenal genjah, dengan buah yang dapat dipanen sekitar 3 tahun setelah tanam, dan pembentukan buah biasanya 6-7 bulan setelah bunga mekar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa alpukat Pluwang dapat berbuah pada usia 2,5 tahun dan bahkan sudah dapat berbuah meski ketinggian tanaman di bawah dua meter.
Alpukat Pluwang sangat cocok untuk tabulampot karena postur pohonnya yang pendek sehingga mudah dipanen. Tanaman ini adaptif di berbagai daerah, dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan rata-rata elevasi 500 – 1500 mdpl.
4. Alpukat Red Vietnam
Alpukat Red Vietnam adalah varietas unggul dari Vietnam yang populer di Asia Tenggara, dijuluki "Si Raja Genjah" karena sangat cepat berbuah dan adaptif. Ciri khas buah ini adalah kulitnya yang berwarna merah keunguan ketika matang sempurna. Ukuran buahnya tergolong besar, berbentuk agak lonjong, dan berat rata-rata bisa mencapai lebih dari setengah kilogram.
Daging buahnya berwarna kuning cerah, sangat lembut, halus, tebal, pulen, dan tidak banyak serat, dengan biji yang tidak terlalu besar. Tanaman ini termasuk jenis unggul yang genjah, mulai berbuah pada umur 2-3 tahun setelah tanam dengan bibit vegetatif.
Alpukat Red Vietnam sangat cocok dibudidayakan di Indonesia karena dapat tumbuh di iklim tropis. Sifat genjah dan produksinya yang lebat menjadikannya pilihan baik untuk urban farming, bahkan saat ditanam dalam pot. Menanam alpukat ini membutuhkan media tanam gembur, subur, dan memiliki drainase baik.
5. Alpukat Kendil
Alpukat Kendil dikenal sebagai salah satu jenis alpukat yang menghasilkan buah berukuran jumbo dan memiliki daya tarik tersendiri. Buahnya bulat dan besar, menyerupai kendil, dengan ukuran mencapai 1-2 kilogram per buah. Daging buahnya tebal, bijinya mini, dan memiliki rasa manis yang legit dan creamy.
Tanaman alpukat Kendil umumnya mulai berbuah pada umur sekitar 3-4 tahun setelah tanam dari perbanyakan vegetatif (okulasi atau sambung pucuk). Keunggulan lainnya adalah kemampuannya berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Alpukat Kendil sangat adaptif terhadap daerah dataran rendah dan bentuknya yang jumbo membuatnya banyak dicari. Perawatan dan pemupukan yang tepat dapat mempercepat pembuahan. Bibit alpukat Kendil sangat baik ditanam pada daerah dengan ketinggian antara 50 sampai 1.200 meter di atas permukaan air laut, dan tumbuh maksimal pada elevasi 50 mdpl sampai 900 mdpl.
6. Alpukat Wina
Alpukat Wina merupakan varietas alpukat lokal yang pertama kali dikembangkan di Desa Jetis, Kabupaten Semarang, Indonesia. Varietas ini dikenal dengan ukuran buahnya yang besar dan produktivitasnya yang tinggi. Buah Alpukat Wina bisa mencapai 1,5 kg - 2 kg per buahnya, dengan rata-rata berat 800—1.300 gram.
Daging buahnya tebal, bertekstur lembut, nikmat, gurih, dan sedikit manis. Daging buahnya berwarna kuning layaknya alpukat mentega, tanpa serat, dan lebih pulen. Bibit alpukat Wina dapat mulai berbuah dalam 2-3 tahun setelah tanam, dan dikenal genjah serta mampu berbuah sepanjang tahun dengan produksi tinggi.
Alpukat Wina dapat ditanam di dalam pot dan sudah bisa berbuah dalam usia minimal 1 tahun jika menggunakan bibit hasil okulasi. Produktivitasnya yang tinggi, mencapai 60-80 kg per panen, menjadikannya menarik untuk urban farming. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari sepanjang hari dan tumbuh optimal pada ketinggian 200 sampai 1.000 mdpl dengan suhu sekitar 30-35 derajat Celcius.
7. Alpukat Hass
Alpukat Hass dikenal sebagai alpukat premium dunia dan sangat diminati di pasar ekspor, berasal dari Australia. Kulit buahnya berwarna hijau gelap hingga kehitaman saat matang, dengan tekstur agak kasar. Dagingnya kuning keemasan, lembut, dan rasanya creamy, gurih, serta manis dengan kadar minyak tinggi.
Tanaman alpukat Hass termasuk jenis yang sangat cepat berbuah. Panen buah dapat dinikmati saat tanaman berumur 2-3 tahun sejak menanam dengan bibit hasil okulasi atau sambung pucuk, dan bisa dipanen maksimal setelah berumur di atas 3 tahun.
Alpukat Hass dapat ditanam di dalam pot (tabulampot). Keunggulan lainnya adalah umur simpan buahnya yang lebih lama, menjadikannya pilihan menarik untuk pasar ekspor. Alpukat Hass dapat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi (200 – 1.000 mdpl), dengan iklim tumbuh optimal adalah iklim tropis dengan penyinaran sepanjang hari. Budidaya di dataran tinggi pada elevasi 1.100 mdpl mampu berbuah lebat karena kondisi agroklimat yang cocok.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Jenis Alpukat yang Cepat Berbuah untuk Panen Lebih Singkat
1. Jenis alpukat apa yang paling cepat berbuah untuk urban farming?
Jawaban: Alpukat Miki, Aligator, Pluwang, Red Vietnam, Kendil, Wina, dan Hass dikenal sebagai varietas yang cepat berbuah, cocok untuk urban farming karena sifat genjahnya dan adaptasinya terhadap penanaman di pot atau lahan terbatas.
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan alpukat hasil okulasi untuk berbuah?
Jawaban: Alpukat hasil okulasi atau sambung pucuk umumnya dapat mulai berbuah dalam waktu 1 hingga 4 tahun, tergantung pada varietas dan perawatan yang diberikan.
3. Apakah alpukat bisa ditanam di dalam pot?
Jawaban: Ya, banyak jenis alpukat seperti Miki, Aligator, Pluwang, Red Vietnam, Wina, dan Hass sangat cocok untuk ditanam dalam pot (tabulampot), terutama jika menggunakan bibit hasil okulasi.
4. Apa saja syarat tumbuh optimal untuk pohon alpukat?
Jawaban: Secara umum, alpukat membutuhkan sinar matahari penuh 6-8 jam per hari, tanah gembur dengan drainase baik, suhu ideal 20-30°C, dan lingkungan yang tidak tergenang air.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4985329/original/030035300_1730272837-Depositphotos_389668874_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480299/original/061209800_1769052802-pexels-ibrahim-hasan-759757-16541475.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481133/original/067254900_1769077915-Menggunakan_cutter_untuk_Melubangi_Galon__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366412/original/031439200_1759226870-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_16.37.32.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479079/original/074178100_1768967772-Bika_Ambon_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481174/original/016851200_1769080048-pexels-ketut-subiyanto-5037319.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353723/original/056829600_1758180006-ruang_tamu_lantai_klasik_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481262/original/048647200_1769084174-ide_jualan_takjil_dari_buah_beku_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480635/original/092097700_1769062271-unnamed__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563010/original/094395700_1693829851-pexels-nicole-michalou-6061574.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480564/original/090568200_1769059565-cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480889/original/045791200_1769070236-Gaya_Victorian_dengan_Pohon_Oak_atau_Cemara_Tua__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480820/original/051245600_1769067907-tenaman_adem.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480802/original/047290500_1769067672-Kebun_dan_Peternakan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480778/original/027354500_1769067234-Gemini_Generated_Image_oq3ie9oq3ie9oq3i_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480739/original/020056800_1769065979-kebun_cbai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480700/original/054460000_1769064824-Membersihkan_getah_pohon_di_teras_rumah_dengan_garam__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5459391/original/068040300_1767160807-teras_kebun_pot_gantung_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480672/original/077257900_1769064000-Memberi_pupuk_organik_pada_pohon_rambutan_agar_berbuah_lebat__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2288449/original/015116900_1532331717-Harga-Telur-Ayam6.jpg)