12 Tips Membangun Rumah Tahan Panas, Hujan, dan Aman dari Risiko Banjir

11 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Membangun rumah di iklim tropis seperti Indonesia tidak cukup hanya mengutamakan estetika, tetapi juga harus memperhatikan kenyamanan termal, ketahanan terhadap hujan, serta keamanan dari potensi banjir. Paparan matahari yang tinggi sepanjang tahun dan curah hujan besar membuat rumah perlu dirancang agar tidak mudah panas, tidak lembap, serta mampu mengalirkan air secara baik tanpa merusak struktur bangunan.

Konsep rumah modern saat ini juga semakin mengarah pada pendekatan minimalis tropis yang menyesuaikan karakter alam. Menurut Engineer Perumahan Usaha Bangun Abadi yang berdomisili di Solo, Ramdhano Syah Qohar (29), atau biasa dipanggil Dhano, konsep ini merupakan “efisiensi ruang yang minimalis dengan memadukan siklus udara secara terbuka, sehingga cocok diterapkan di iklim Indonesia.” Dengan perencanaan tepat mulai dari lokasi, material, sirkulasi udara, hingga pengelolaan air, rumah bisa menjadi hunian yang nyaman, sehat, dan aman dalam jangka panjang.

1. Mendesain Atap Miring dan Berkualitas

Atap merupakan bagian yang paling sering menerima panas dan hujan sehingga desainnya harus mampu mengalirkan air secara cepat. Kemiringan yang tepat membuat air langsung menuju talang tanpa mengendap yang bisa menyebabkan kebocoran.

Ketika ditemui Liputan6.com pada Minggu (18/1/2026), Dhano juga sempat menjelaskan material atap juga sangat berpengaruh, “untuk meredam panas disarankan memakai genteng UPVC, genteng tanah liat, atap bitumen, atau sirap kayu ulin karena ringan, tahan air, dan tidak menyimpan panas berlebih.”

Selain itu, overstek atau teritisan membantu melindungi dinding dan jendela dari tampias hujan serta paparan matahari langsung, sehingga suhu ruangan lebih stabil dan struktur bangunan lebih awet.

2. Menggunakan Fondasi yang Kuat dan Tahan Air

Fondasi merupakan elemen utama yang menentukan daya tahan rumah terhadap beban bangunan dan tekanan air dari tanah sekitarnya. Fondasi yang baik seharusnya dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah agar air hujan tidak langsung menyentuh bagian struktur bawah rumah.

Material seperti batu kali dan beton bertulang sangat disarankan karena memiliki kekuatan tekan yang baik sekaligus tahan terhadap perubahan kondisi tanah akibat air. Campuran beton yang tepat juga membantu mencegah munculnya retakan yang bisa menjadi jalur masuk air ke dalam bangunan.

Agar lebih maksimal, fondasi dapat dilapisi dengan bahan waterproofing sehingga air tanah tidak mudah naik ke dinding melalui pori-pori beton. Perlindungan ini membuat rumah lebih awet dan tidak cepat rusak meskipun sering terpapar hujan.

3. Memilih Lokasi dan Elevasi Tanah yang Tepat

Pemilihan lokasi menjadi fondasi awal keberhasilan membangun rumah tahan panas dan banjir, karena kondisi lingkungan sekitar sangat memengaruhi keamanan bangunan dalam jangka panjang. Lahan yang berada di dataran rendah, dekat sungai, atau memiliki riwayat genangan sebaiknya dianalisis terlebih dahulu agar risiko banjir bisa diantisipasi sejak tahap perencanaan.

Selain lokasi, perbedaan ketinggian tanah dengan jalan dan saluran air sekitar juga harus diperhatikan agar air hujan tidak mengalir masuk ke area rumah. Posisi tanah yang lebih tinggi membuat air secara alami bergerak menjauh dari bangunan sehingga mengurangi tekanan air pada fondasi dan lantai rumah.

Jika lahan terlanjur rendah, proses urugan dan pemadatan perlu dilakukan secara bertahap supaya elevasi meningkat tanpa mengorbankan kestabilan struktur. Cara ini membantu rumah tetap aman, tidak mudah ambles, dan lebih terlindungi dari genangan saat hujan deras.

4. Menyediakan Sistem Drainase yang Efektif

Drainase yang baik berfungsi mengarahkan air hujan agar tidak menggenang di sekitar rumah. Saluran air perlu dibuat mengelilingi bangunan dengan kemiringan yang cukup supaya air mengalir menuju selokan atau sumur resapan.

“Sistem drainase idealnya memiliki lebih dari dua arah keluaran agar pembuangan air hujan maksimal melalui beberapa jalur sekaligus,” jelas pria asal Ponorogo tersebut.

Perawatan drainase juga penting dilakukan secara rutin agar tidak tersumbat oleh sampah atau lumpur. Saluran yang bersih memastikan aliran air tetap lancar saat hujan deras datang. Tanpa drainase yang baik, air akan menekan fondasi dan membuat tembok lembap hingga berjamur, sehingga perawatan rutin saluran air juga wajib dilakukan.

5. Memilih Material Dinding yang Tahan Cuaca

Dinding rumah berperan sebagai pelindung utama dari panas dan air hujan, sehingga material yang digunakan harus memiliki daya tahan tinggi. Bata merah, batako berkualitas, atau hebel merupakan pilihan yang cukup baik karena mampu menjaga suhu ruangan tetap stabil.

Dhano juga menyarankan unsur tropis modern, “penggunaan roster pada dinding membuat udara lebih terbuka dan area hijau terasa masuk ke dalam rumah.”

Untuk perlindungan tambahan, bagian luar dinding sebaiknya dilapisi cat waterproof yang mampu menahan air sekaligus melindungi tembok dari paparan sinar matahari. Dengan cara ini, tampilan rumah tetap awet dan tidak cepat rusak.

6. Memaksimalkan Ventilasi dan Sirkulasi Udara

Rumah yang sejuk tidak hanya bergantung pada material, tetapi juga pada sirkulasi udara yang baik. Ventilasi silang memungkinkan udara panas keluar dan digantikan oleh udara segar dari luar.

Menurut Dhano, “ventilasi alami sangat berperan untuk perputaran udara sehingga kondisi ruangan tidak lembap,” sehingga desain bukaan harus diperhitungkan sejak awal.

Sirkulasi yang baik juga mengurangi kelembapan di dalam rumah saat musim hujan. Rumah yang tidak pengap akan terasa lebih sehat dan minim risiko pertumbuhan jamur.

7. Menambahkan Plafon dan Insulasi Panas

Plafon berfungsi sebagai penahan panas dari atap agar tidak langsung masuk ke ruang hunian. Gypsum atau PVC dengan lapisan insulasi mampu menurunkan suhu ruangan.

“Plafon menahan udara panas agar tidak langsung turun, sedangkan ventilasi atap berfungsi membuang udara panas ke luar,” tambah Dhano.

Ruang kosong antara atap dan plafon menjadi penyangga panas alami sehingga rumah tetap sejuk meskipun cuaca di luar terik.

8. Membangun Sumur Resapan dan Biopori

Sumur resapan membantu mengalirkan air hujan ke dalam tanah agar tidak menggenang di halaman rumah. Sistem ini sangat efektif mengurangi risiko banjir lokal di lingkungan sekitar.

Selain sumur resapan, lubang biopori dapat dibuat di beberapa titik halaman untuk meningkatkan daya serap tanah. Air hujan akan lebih cepat meresap dan tidak langsung mengalir ke permukaan.

Dengan sistem resapan yang baik, beban drainase menjadi lebih ringan dan lingkungan sekitar rumah lebih aman dari limpasan air. Cara ini juga membantu menjaga keseimbangan air tanah.

9. Meninggikan Lantai Rumah

Lantai yang lebih tinggi dari tanah sekitar membantu mencegah air masuk saat hujan ekstrem. Idealnya elevasi disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Dhano menambahkan, “meninggikan elevasi rumah minimal satu meter dari struktur jalan dapat mencegah air mengalir masuk ke hunian.”

Selain aman dari banjir, lantai tinggi juga menjaga rumah tetap kering dan sehat.

10. Menambahkan Kanopi dan Pelindung Eksterior

Kanopi pada pintu dan jendela berfungsi melindungi bangunan dari tampias hujan dan panas langsung. Perlindungan ini mencegah air masuk melalui celah saat hujan disertai angin.

Kanopi juga membantu mengurangi panas yang mengenai kaca dan dinding sehingga suhu ruangan menjadi lebih stabil. Ruang di dalam rumah terasa lebih nyaman sepanjang hari.

Selain fungsional, kanopi juga dapat menambah nilai estetika pada tampilan rumah. Dengan desain yang tepat, rumah menjadi lebih menarik dan tahan cuaca.

11. Menyediakan Area Hijau dan Tanah Terbuka

Area hijau membantu tanah menyerap air hujan dengan lebih baik dibandingkan permukaan yang tertutup paving penuh. Taman kecil di halaman depan atau belakang dapat mengurangi limpasan air.

Dhano juga menjelaskan, “penambahan taman dan tumbuhan menjadikan suasana rumah lebih sejuk dan nyaman ditempati.”

Selain mencegah genangan, ruang hijau membuat rumah terasa segar dan mendukung kesehatan penghuni.

12. Menggunakan Pintu dan Jendela Anti Air

Pintu dan jendela sering menjadi titik masuk air saat hujan lebat, sehingga material yang digunakan harus tahan terhadap kelembapan. Kusen aluminium atau UPVC lebih awet dibanding kayu biasa.

Pemasangan karet perapat di sekeliling pintu dan jendela membantu mencegah rembesan air masuk ke dalam rumah. Celah kecil yang tertutup rapat membuat ruangan tetap kering.

Dengan sistem penutup yang baik, rumah menjadi lebih aman dari kebocoran sekaligus lebih nyaman karena tidak mudah terkena hembusan angin dan hujan dari luar.

Pertanyaan dan Jawaban

Q: Bagaimana agar rumah tidak panas di siang hari?

A: Gunakan ventilasi silang, plafon berinsulasi, dan material dinding yang menahan panas.

Q: Apa penyebab rumah mudah banjir?

A: Posisi tanah rendah, drainase buruk, dan tidak adanya sistem resapan air.

Q: Berapa tinggi ideal lantai rumah?

A: Sekitar 30–60 cm dari permukaan tanah sekitar.

Q: Apakah sumur resapan wajib dibuat?

A: Sangat disarankan karena membantu menyerap air hujan dan mengurangi genangan.

Q: Material apa yang baik untuk rumah tahan hujan?

A: Bata merah, hebel, beton bertulang, serta cat waterproof untuk dinding luar.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |