Biografi Lengkap Isaac Newton, Ilmuwan Jenius Penemu Hukum Gravitasi dan Kalkulus

1 month ago 28

Liputan6.com, Jakarta - Isaac Newton adalah seorang fisikawan dan matematikawan yang mengembangkan prinsip-prinsip fisika modern, termasuk hukum gerak. Ia diakui sebagai salah satu pemikir hebat Revolusi Ilmiah abad ke-17. Kontribusinya yang luar biasa telah mengubah pemahaman tentang fisika, matematika, dan astronomi secara mendalam.

Sebagai tokoh puncak Revolusi Ilmiah abad ke-17, Sir Isaac Newton dikenal luas atas penemuan Hukum Gerak Newton, Teori Gravitasi Universal, dan pengembangan kalkulus bersama Gottfried Wilhelm Leibniz. Karyanya dalam optik juga mendasari fisika modern, dengan bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica dianggap sebagai salah satu karya ilmiah terhebat yang pernah ditulis.

Isaac Newton salah satu ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa. Artikel ini akan mengupas biografi lengkapnya  dan menyajikan perjalanan hidup serta penemuan-penemuan revolusionernya yang mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta. Jadi simak biografi Isaac Newton selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (24/12/2025).

Profil Singkat Isaac Newton

Berikut adalah ringkasan profil Sir Isaac Newton yang penting untuk diketahui:

  • Nama Lengkap: Sir Isaac Newton
  • Lahir: 25 Desember 1642 (Kalender Julian) atau 4 Januari 1643 (Kalender Gregorian)
  • Meninggal: 20 Maret 1727 (Kalender Julian) atau 31 Maret 1727 (Kalender Gregorian)
  • Tempat Lahir: Woolsthorpe, Lincolnshire, Inggris
  • Tempat Meninggal: London, Inggris
  • Bidang: Fisika, Matematika, Astronomi, Filsafat Alam, Alkimia, Teologi
  • Dikenal Untuk: Hukum Gerak Newton, Teori Gravitasi Universal, Kalkulus (bersama Leibniz), Teleskop Reflektor, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica
  • Penghargaan: Dikukuhkan (knighted) oleh Ratu Anne pada tahun 1705, menjadikannya Sir Isaac Newton

Masa Kecil dan Pendidikan Isaac Newton

Isaac Newton lahir pada tanggal 25 Desember 1642 (menurut kalender Julian) di Woolsthorpe, Lincolnshire, Inggris. Ayahnya, yang juga bernama Isaac Newton, meninggal tiga bulan sebelum kelahirannya, meninggalkan ia sebagai satu-satunya putra seorang petani lokal. Sebagai bayi prematur, Newton kecil sangat lemah dan tidak diharapkan untuk bertahan hidup, sebuah awal yang penuh tantangan bagi seorang jenius.

Ketika ia berusia tiga tahun, ibunya, Hannah Ayscough Newton, menikah lagi dengan seorang pendeta kaya bernama Barnabas Smith dan pindah untuk tinggal bersamanya. Newton muda ditinggalkan bersama nenek dari pihak ibunya, sebuah pengalaman yang meninggalkan jejak mendalam pada kepribadiannya. Pengalaman ini kemudian termanifestasi sebagai rasa tidak aman yang akut, membuatnya sering terobsesi dengan karyanya yang diterbitkan dan membela keunggulannya dengan perilaku irasional.

Newton terdaftar di The King's School di Grantham untuk pendidikannya. Ibunya sempat menariknya keluar dari sekolah pada usia 12 tahun dengan rencana menjadikannya seorang petani, namun Newton gagal total dalam pekerjaan pertanian karena ia menganggapnya monoton. Untungnya, kesalahannya disadari, dan Isaac Newton dikirim kembali ke sekolah tata bahasa di Grantham untuk mempersiapkan diri masuk universitas, sebuah keputusan yang mengubah arah sejarah sains.

Pada Juni 1661, Isaac Newton diterima di Trinity College, Cambridge, meskipun usianya sedikit lebih tua dari mahasiswa sarjana lainnya karena pendidikannya yang terputus. Di sana, ia mempelajari matematika, fisika, dan astronomi dengan penuh semangat, menunjukkan bakat luar biasa dalam penelitian dan eksperimen ilmiah yang menjadi dasar penemuan-penemuan besarnya di kemudian hari.

Tahun-Tahun Keemasan dan Penemuan Besar

Ketika Isaac Newton tiba di Cambridge pada tahun 1661, gerakan Revolusi Ilmiah sudah berlangsung, dan banyak karya dasar ilmu pengetahuan modern telah muncul. Meskipun kurikulum universitas masih didominasi oleh Aristotelianisme, Newton menemukan karya-karya filsuf alam Prancis René Descartes dan filsuf mekanik lainnya, yang memandang realitas fisik sebagai partikel materi dalam gerakan.

Masa Karantina Wabah (1665-1666)

Pada tahun 1665, wabah pes melanda Eropa dan memaksa Universitas Cambridge ditutup, sehingga Isaac Newton kembali ke rumahnya di Woolsthorpe selama hampir dua tahun. Periode ini, yang sering disebut sebagai "tahun keajaiban" (annus mirabilis), menjadi masa paling produktif dalam hidupnya.

Selama waktu ini, Newton meletakkan dasar-dasar kalkulus dan memperluas wawasan sebelumnya menjadi sebuah esai, 'Of Colours,' yang berisi sebagian besar ide yang diuraikan dalam Opticks miliknya. Ia juga mulai merumuskan teori gravitasi universalnya, sebuah konsep yang akan merevolusi pemahaman tentang alam semesta.

Kisah populer tentang apel yang jatuh dari pohon dan menginspirasi Isaac Newton untuk merumuskan teori gravitasi universalnya adalah sebuah alegori. Meskipun tidak ada bukti bahwa apel itu benar-benar mengenai kepalanya, Newton memang melihat apel jatuh dari pohon, yang membuatnya bertanya-tanya mengapa apel itu jatuh lurus ke bawah dan tidak miring. Kejadian ini mengarah pada eksplorasi teori gerak dan gravitasi yang mendalam, membentuk salah satu penemuan paling penting dalam sejarah sains.

Pengembangan Kalkulus

Isaac Newton mengembangkan kalkulus, yang ia sebut "metode fluxions," secara independen. Ia menemukan teorema binomial dan mengembangkan kalkulus, bentuk analisis yang lebih kuat yang menggunakan pertimbangan infinitesimal dalam menemukan kemiringan kurva dan area di bawah kurva. Karyanya ini menjadi alat fundamental dalam matematika dan fisika modern.

Karya dalam Optik

Isaac Newton membuat penemuan penting dalam optik melalui serangkaian eksperimen pada tahun 1665 dan 1666. Ia menunjukkan bahwa cahaya putih adalah komposit dari semua warna spektrum, mengintegrasikan fenomena warna ke dalam ilmu cahaya dan meletakkan dasar bagi optik fisik modern.

Selain itu, ia juga mengembangkan teleskop pemantul (reflektor) pada tahun 1668, yang merupakan teleskop pertama yang pernah dibangun. Penemuan ini meningkatkan kemampuan observasi astronomi secara signifikan.

Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687)

Pada tahun 1687, setelah 18 bulan bekerja intensif, Isaac Newton menerbitkan Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, yang sering disingkat Principia. Buku ini dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sains modern, menyajikan tiga hukum gerak Newton dan hukum gravitasi universal yang menjadi fondasi fisika klasik.

  • Hukum Newton I (Hukum Kelembaman): Setiap benda yang diam akan tetap diam, dan setiap benda yang sedang bergerak akan terus bergerak, selama tidak ada resultan gaya yang diberikan atau bekerja pada benda tersebut.
  • Hukum Newton II: Ketika resultan gaya yang bekerja pada suatu benda tidak sama dengan nol, maka benda tersebut akan bergerak dengan suatu percepatan tertentu, yang berarti perubahan gerak sebanding dengan gaya yang dikenakan.
  • Hukum Newton III: Setiap benda yang diberikan gaya aksi, maka benda tersebut akan kembali memberikan gaya reaksi yang sama besar dan berlawanan arah.

Hukum Gravitasi Universal menyatakan bahwa setiap partikel materi di alam semesta menarik setiap partikel lain dengan gaya yang sebanding dengan hasil kali massa mereka dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara pusat-pusat mereka. Hukum ini juga dikonfirmasi dari fenomena lebih lanjut seperti pasang surut dan orbit komet, menunjukkan kekuatan penemuan Isaac Newton.

Kepribadian, Kontroversi, dan Kehidupan Dewasa

Isaac Newton dikenal sebagai pribadi yang introvert dan sangat sensitif terhadap kritik, sebuah rasa tidak aman akut yang dapat ditelusuri ke tahun-tahun awalnya. Ia memiliki kecenderungan untuk menjadi pendendam dan mungkin mengalami gangguan mental, seperti yang terlihat dari dua kali gangguan saraf yang dialaminya.

Perseteruan dengan Robert Hooke

Salah satu kontroversi paling awal Isaac Newton adalah dengan Robert Hooke, seorang pemimpin Royal Society. Hooke mengkritik makalah Newton tentang cahaya dan warna pada tahun 1672, yang memicu kemarahan Newton. Hooke, yang menganggap dirinya ahli dalam optik, menulis kritik yang merendahkan terhadap pendatang baru yang tidak dikenal itu.

Perseteruan ini berlanjut, terutama terkait prioritas penemuan gravitasi. Isaac Newton, yang tidak suka dikoreksi, bahkan menghapus hampir setiap referensi ke Hooke dalam manuskrip Principia karena kemarahannya, dan menolak untuk menerbitkan Opticks atau menerima kepresidenan Royal Society sampai Hooke meninggal.

Perang Kalkulus dengan Gottfried Leibniz

Isaac Newton juga terlibat dalam perseteruan sengit dengan filsuf dan matematikawan Jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz, mengenai siapa yang pertama kali menemukan kalkulus. Meskipun sekarang diketahui bahwa Newton mengembangkan kalkulus lebih dulu, Leibniz menerbitkannya terlebih dahulu dan juga menemukan kalkulus secara independen.

Kontroversi ini memuncak menjadi tuduhan plagiarisme dari kedua belah pihak dan berlangsung selama 25 tahun terakhir hidup Newton, bahkan setelah kematian Leibniz. Pertempuran dengan Leibniz, kebutuhan yang tak tertahankan untuk menghapus tuduhan ketidakjujuran, mendominasi periode akhir kehidupan Isaac Newton.

Kehidupan di London

Pada tahun 1696, Isaac Newton diangkat sebagai Warden (Kepala Penjaga) dan kemudian Master of the Royal Mint. Ia mengambil peran ini dengan sangat serius, memerangi pemalsuan uang dengan kejam. Ia menjadi teror bagi para pemalsu London, mengirim banyak dari mereka ke tiang gantungan dan menemukan di dalamnya target yang dapat diterima secara sosial untuk melampiaskan kemarahan yang terus membara di dalam dirinya.

Minat Lain

Selain sains, Isaac Newton juga memiliki minat mendalam pada alkimia, studi teologi, dan kronologi alkitabiah. Ia juga meluangkan waktu untuk menekuni minat lain, seperti agama dan teologi, serta menghabiskan banyak waktu untuk menafsirkan nubuat Daniel dan St. Yohanes.

Tahun-Tahun Akhir

Isaac Newton meninggal dalam tidurnya pada tanggal 31 Maret 1727, dan dimakamkan di Westminster Abbey. Ia dikenang sebagai seorang sarjana, penemu, dan penulis yang transformatif, meninggalkan warisan ilmiah yang tak ternilai.

Warisan Abadi Isaac Newton

Sir Isaac Newton adalah seorang tokoh yang kompleks, seorang jenius ilmiah yang tak terbantahkan, namun dengan kepribadian yang penuh gejolak. Karyanya dalam fisika, matematika, dan astronomi menjadi fondasi bagi sains modern selama berabad-abad. Ia menghapus segala keraguan tentang model heliosentris alam semesta dengan membangun mekanika langit, dan metodologinya yang tepat melahirkan apa yang dikenal sebagai metode ilmiah.

Meskipun teorinya tentang ruang-waktu dan gravitasi akhirnya digantikan oleh teori Albert Einstein, karyanya tetap menjadi landasan yang membangun fisika modern dan membentuk kerangka kerja ilmiah hingga era Einstein. Warisannya terus menginspirasi para ilmuwan dan pemikir hingga saat ini, menegaskan status Isaac Newton sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah manusia.

FAQ

Q: Apakah Isaac Newton dan Isaac Newston orang yang sama?

A: Ya, "Isaac Newston" adalah kesalahan eja yang umum. Nama yang benar adalah Sir Isaac Newton, dan artikel ini mengacu pada tokoh yang sama.

Q: Apa saja 3 hukum Newton yang terkenal itu?

A: Tiga hukum gerak Newton adalah Hukum I (kelembaman), Hukum II (F=ma), dan Hukum III (aksi-reaksi).

Q: Benarkah teori gravitasi ditemukan Newton karena kejatuhan apel?

A: Kisah apel adalah alegori atau inspirasi sederhana yang membuatnya mempertanyakan mengapa apel jatuh ke bawah, bukan karena apel itu benar-benar mengenai kepalanya.

Q: Selain fisika, apa kontribusi Isaac Newton lainnya?

A: Selain fisika, Newton juga menemukan dasar-dasar kalkulus (bersama Leibniz), membuat terobosan dalam optik dan teleskop reflektor, serta mendalami alkimia dan studi agama.

Q: Mengapa Isaac Newton bertengkar dengan Leibniz?

A: Perseteruan sengit terjadi mengenai siapa yang pertama kali menemukan kalkulus. Meskipun Newton mengembangkan kalkulus lebih dulu, Leibniz menerbitkannya terlebih dahulu, memicu kontroversi prioritas.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |