Cara Kreatif Membuat Pupuk Ala Ibu-Ibu KWT, Mulai dari Sisa Makanan hingga Akar Bambu

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Pertanian kini tidak lagi identik dengan lahan luas dan pekerjaan berat di sawah. Melalui inovasi sederhana yang dilakukan oleh ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT), aktivitas bercocok tanam bisa dilakukan di halaman sempit bahkan dengan media terbatas seperti polybag atau pot gantung. Semangat ini terlihat dari berbagai praktik kreatif yang tidak hanya memanfaatkan ruang, tetapi juga mengolah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bernilai, termasuk pupuk organik.

Selain membantu menjaga ketahanan pangan keluarga, metode ini juga menjadi solusi ramah lingkungan yang mudah diterapkan. Berbekal pengalaman lapangan dan pelatihan dari berbagai pihak, para anggota KWT mampu mengembangkan teknik pembuatan pupuk dari bahan alami seperti sisa makanan, daun kering, hingga akar bambu. Prosesnya sederhana, namun hasilnya terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanaman sekaligus menghemat biaya produksi.

“Sebenarnya bertani itu sekarang tidak harus di sawah atau kotor-kotor seperti dulu. Kita bisa manfaatkan halaman sempit, pakai polybag atau sistem gantung. Bahkan sampah dapur pun bisa dijadikan pupuk organik yang luar biasa manfaatnya. Jadi semua yang alami itu bisa kita olah kembali, asal kita mau belajar dan telaten menjalaninya,” ujar Suprihatin, pengurus KWT asal Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman saat ditemui Liputan6.com pada Senin (9/2/2026).

Bertani Modern di Lahan Sempit

Konsep pertanian modern yang dikembangkan ibu-ibu KWT menekankan pada pemanfaatan ruang sekecil mungkin secara maksimal. Dengan menggunakan polybag, pot, hingga sistem tanam vertikal, mereka mampu menanam berbagai jenis sayuran tanpa harus memiliki lahan luas. Metode ini sangat relevan bagi masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang, tetapi tetap ingin produktif dalam bercocok tanam.

Selain itu, pendekatan ini juga membuat kegiatan bertani menjadi lebih fleksibel dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga. Aktivitas menanam tidak hanya memberikan hasil berupa pangan, tetapi juga kepuasan batin saat melihat tanaman tumbuh dan berbuah. Hal ini menjadikan bertani sebagai aktivitas yang tidak hanya produktif, tetapi juga menyenangkan dan menenangkan.

“Kalau kita sudah merasakan menanam itu rasanya seperti merawat anak sendiri. Dari mulai tanam sampai panen itu ada kepuasan tersendiri. Bahkan walaupun tidak juara lomba, hasil tanaman yang tumbuh itu sudah membuat kita senang sekali. Jadi bertani itu bukan soal hasil saja, tapi juga proses yang kita nikmati,” ungkap Suprihatin yang sudah bergabung di KWT sejak 2020 hingga sekarang.

Pupuk Organik dari Limbah Dapur

Salah satu inovasi yang paling menarik dari ibu-ibu KWT adalah kemampuan mereka mengolah limbah dapur menjadi pupuk organik. Sisa sayuran, kulit buah, hingga nasi basi tidak dibuang begitu saja, melainkan dikumpulkan untuk dijadikan bahan kompos. Proses ini tidak hanya mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga menghasilkan pupuk yang kaya nutrisi untuk tanaman.

Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di rumah, biaya produksi pertanian dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, pupuk organik yang dihasilkan juga lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan. Praktik ini menjadi contoh nyata bagaimana konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sisa-sisa makanan seperti sayuran, kulit buah, bahkan nasi itu semuanya bisa dimasukkan ke dalam wadah untuk dijadikan pupuk. Kita lapisi dengan bahan lain seperti sekam atau tanah, lalu didiamkan sampai proses pembusukan. Nanti hasilnya itu sangat bagus untuk media tanam, jadi kita tidak perlu beli pupuk lagi,” jelas Suprihatin.

Teknik Ember Tumpuk untuk Pupuk Cair dan Kompos

Metode ember tumpuk menjadi salah satu teknik favorit dalam pembuatan pupuk organik. Sistem ini menggunakan ember yang dilubangi di bagian bawah dan dilengkapi kran untuk menampung pupuk cair (POC). Sementara itu, bagian atas ember digunakan untuk menampung bahan organik yang akan terurai menjadi kompos.

Prosesnya dilakukan dengan cara berlapis, dimulai dari sisa makanan, sekam, hingga cairan fermentasi. Setelah itu, bahan-bahan tersebut didiamkan selama 2 hingga 4 minggu di tempat teduh agar proses fermentasi berjalan optimal. Hasilnya adalah dua jenis pupuk sekaligus, yaitu pupuk cair dan kompos padat.

“Ember tumpuk itu sederhana tapi hasilnya lengkap. Bagian bawah menghasilkan pupuk cair, sementara bagian atas jadi kompos. Kita tinggal susun bahan seperti sisa makanan, sekam, lalu kasih cairan fermentasi. Didiamkan beberapa minggu, nanti sudah bisa dipakai. Yang penting tidak kena hujan dan harus di tempat teduh,” terang Suprihatin.

Pupuk Alami dari Akar Bambu dan Air Beras

Selain dari limbah dapur, ibu-ibu KWT juga memanfaatkan bahan alami lain seperti akar bambu dan air beras untuk membuat pupuk cair. Akar bambu dikenal memiliki kandungan nutrisi yang kompleks sehingga sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Proses pembuatannya melibatkan fermentasi dengan tambahan bahan seperti molase dan ragi.

Air beras juga menjadi alternatif pupuk yang mudah dibuat di rumah. Dengan mencampurkannya dengan bahan lain seperti kulit pisang atau bawang, pupuk cair yang dihasilkan menjadi lebih kaya nutrisi dan tidak berbau menyengat. Metode ini sangat praktis dan cocok untuk digunakan sehari-hari.

“Akar bambu itu gizinya lengkap sekali untuk tanaman. Kita potong, ambil airnya, lalu difermentasi dengan molase dan fermipan sampai berbuih. Kalau air beras juga bisa, tinggal dicampur kulit pisang atau bawang supaya tidak bau, lalu didiamkan dua minggu. Hasilnya bisa untuk semua tanaman,” jelas Ibu Yuli, pengurus KWT dari Desa Karangasem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Tantangan dan Ketelatenan dalam Bertani

Meski terlihat sederhana, bertani tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal pengendalian hama dan cuaca. Tanaman seperti cabai sering mengalami kegagalan akibat penyakit atau curah hujan yang tinggi. Hal ini menjadi pembelajaran penting bagi para anggota KWT untuk terus mencoba dan beradaptasi.

Namun, semangat kebersamaan dan tujuan untuk belajar membuat ibu-ibu KWT tidak mudah menyerah. Mereka menjadikan setiap kegagalan sebagai pengalaman berharga untuk meningkatkan kualitas hasil di masa depan. Dengan ketelatenan dan kerja sama, mereka mampu menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.

“Pernah saya tanam cabai di lahan besar, hasilnya hampir gagal semua karena hujan terus dan kena penyakit. Tapi di KWT ini kita tidak hanya cari untung, kita belajar bersama. Jadi gagal itu bukan masalah, yang penting kita terus mencoba dan memperbaiki. Dari situ kita jadi tahu cara yang lebih baik ke depannya,” tutup Suprihatin.

Pertanyaan dan Jawaban seputar Topik

1. Bagaimana cara membuat pupuk organik dari sisa makanan?

Pupuk organik dari sisa makanan dibuat dengan mengumpulkan limbah dapur seperti sayuran, kulit buah, dan nasi, lalu ditimbun atau difermentasi dalam wadah hingga membusuk dan siap digunakan sebagai kompos.

2. Apa itu metode ember tumpuk dalam pembuatan pupuk?

Ember tumpuk adalah teknik membuat pupuk dengan wadah berlapis, di mana bagian atas menghasilkan kompos dan bagian bawah menghasilkan pupuk organik cair (POC) melalui proses fermentasi.

3. Berapa lama proses pembuatan pupuk organik sederhana?

Proses pembuatan pupuk organik biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 4 minggu, tergantung bahan dan kondisi penyimpanan seperti tempat yang teduh dan tidak terkena hujan.

4. Apakah akar bambu bisa dijadikan pupuk tanaman?

Ya, akar bambu bisa dijadikan pupuk cair karena mengandung nutrisi lengkap yang baik untuk tanaman, biasanya difermentasi dengan bahan tambahan seperti molase dan ragi.

5. Apa manfaat menggunakan pupuk organik dibanding pupuk kimia?

Pupuk organik lebih ramah lingkungan, meningkatkan kesuburan tanah secara alami, serta memanfaatkan limbah rumah tangga sehingga lebih hemat biaya.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |